Riadi

Riadi


seseorang yang terlalu diokupasi oleh masa silam
delapanpuluhan
dan agak terlalu menikmatinya:D
   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Monday, November 14, 2005
apa yang kita dapat di waktu malam (2)

Tidur siang yang lumayan pules membuatku jam sembilan ga ngantuk. Apalagi sempet-sempetnya minum es kupi ketika maghrib menjelang. Jadi meski jam sembilanan aku sudah ada di sini di pembaringan aku  sendiri, menanti sampai akhir hidup ini. Di hatiku tyada yang lain selain dirimu, kau pelita hidupku, di hatiku tyada yang lain selain dirimu, kau tumpuan harapan yang terakhir (maaf yang cetak miring itu lagunya pantje yang dinyanyiin meriam bellina tahun 80an ketika dia masih belia).

 

Speaking of 80-an, tangan yang bosan memijit-mijit remote tibatiba berhenti di Lativi. Semula aku tidak terlalu semangat melihat penggambaran suasana kota Jakarta yang keliatan kuna. Seberapa kuna? Aku simak dalam-dalam, dan ketika aku mengenali muka cewe yang bersepeda di sepanjang harmoni, jantungku berdegup. Itu Enny Beatrice! Seseorang yang terkenal di masanya. Bisa disetarakan dengan Sarah Azhari jaman sekarang.

 

Biasanya Lativi muter acara layer tancep dengan film-film tahun 90an. Jadi bisa dibayangkan, ini sebuah tontonan yang patut dinikmati sebagai penggemar era 80an. Lepas dari buruknya cerita, acting dan teknik film yang dibikin, paling tidak atmosfer masa itu kerasa banget-banget. Kalau ga percaya, terlihat dari kostum yang dikenakan, tatanan rambut, dan adegan jeng Enny yang lagi ngibing. Bisa dipastikan film itu agak-agak kepengaruh film Jen Beals yang aku tonton ketika kelas 6 sd. Ada adegan tarian bak flashdance gitu lho. Hihihi…

 

Peran utama prianya, sodara kandung penyanyi kondang Christine Panjaitan. Sapa lagi kalo bukan Robin Panjaitan. Kebanyakan film Robin, setipe dengan Richie Ricardo. Rada-rada komedi seks dan banyak cengengesan. Jadi agak aneh juga kok bisa dipajang bareng Enny yang lebih ‘seurieus’.

 

Sebelum Tora Sudiro bertato, Robin sudah duluan pasang. Cuma gambar jelasnya ga begitu keliatan. Lalu ada dua side-kick dia. Yang satu cakep buanget, satunya lagi ndut. Kelaziman seperti itu sudah sangat biasa. Peran utama, dengan ‘dayang-dayang’ yang secara physical appearance bertolak belakang. Berapa banyak sinetron yang mengikutinya? Gak keitung…..Dan kenapa ya, penggambaran obese person (terutama cewe) selalu saja memperlihatkan dia berdialog sambil megang bungkus cemilan? Duhh aku merinding melihat mendiang Tarida Gloria pake gaun pesta backless item, ditemani se-tube Pringles…..! Sangat ga matching.

 

Sama ga matchingnya adalah antara judul dengan kandungan film itu. Gairah Pertama. Itu judul yang sangat provokatif. Sementara penggambarannya menurutku lebih cocok dengan Gairah KeSebelas, atau KeSeratus. Pokoknya dua digit ke atas. Karakter Enny diceritakan lugu,  tapi kok penggambarannya bebas banget, penari erotis pula. Dipertemukan dengan trio playboy yang ga jelas profesinya. Dibilang mahasiswa, kok pelajarannya mengetik. Hehehe.

Robin yang naksir jeng Enny, tapi si lugu itu lebih  memilih Roi, yang emang lebih cakep. Kebablasan akhirnya hamil. Adegan cengengesan pun berganti dengan derai airmata, dan dialog verbal yang standar. Si Roi tidak mau bertangung jawab,karena dia playboy beneran. Si Robin marah dan betengkar. Saling ngatain dan berantem di sebuah amusement centre. Dilerai sama si ndut, dengan kalimat pemisah yang juga standar…

” malu diliatin orang…”. Nah kalau lokasi ributnya di rumah, pasti line itu berubah menjadi “..malu sama tetangga”. Waksss…!

 

Singkat cerita, si Robin yang mau bertanggung jawab. Meski Enny rada-rada nolak. Dan dari pertengahan film, sampai jelang akhir akting Enny mewek mulu. Heran deh. Malah sempet minum baygon pula. Beneran. Keliatan kaleng obat nyamuknya. Padahal kan ga boleh nyebut merek. Hehehe….

 

Ending film ga ketauan. Aku keburu bosan. Tapi kalau boleh nebak, Enny pasti milih Robin. Itu lebih komersial daripada dia balik lagi sama si cakep itu. Aku membayangkan Enny dan Robin kejarkejaran di sebuah taman dalam adegan lambat……

 

End of story

 

Yang blom berakhir adalah… sms-an sama dua kambrat yang dengan sengaja aku bagi info tentang film ini. Yang satu menangapinya dengan ‘sesuai’. Yang satunya lagi, dia sms dari KTS, dan responsnya di luar konteks. Ndilalalh, dia malahan nanya

 

“The Six & Bionic Woman itu tahun 70-an apa 80-an ya?”

 

Aku jawab dengan benar. Eh, dia manjang lagi dengan nyebutnyebut judul lainnya, macem Happy Days. I Dream of Jeannie, Man from Atlantis dan Giants (mmm mungkin maksudnya Land of The Giants. Kalo Giants doang kan bisa jadi pasar hiper gengnya Hero atau panggilan sayang Takeshi yang musuh bebuyutannya Nobita). Aku berikan lagi jawaban, dan diimbuhi dengan pertanyaan,” lagi bikin apaan sih?”

 

Jawaban dia aku kutip dengan sebenar-benarnya…

 

“Ada yang kirim tulisan ke blog 80an. Perlu verifikasi. Ya ke sapa lagi :p?

 

ANJRIT ! (oopss…..)

 


Posted at 08:32 am by riadi
Comments (3)  

apa yang kita dapat di waktu malam (1)

Baru lebaran tahun ini aku banyak mengikuti anjangsana silaturahim. Kumpulkumpul di keluarga sini, halal bihalal di keluarga besar sana. Nyarinyari kakaren lebaran di kerabat lain, undangan reuni dari menteman lama yang diwakili oleh Beb, ketika dia dengan manisnya menelpon  untuk mengabarkan dus mendapat amanat untuk ‘sedikit memaksakan’ kehadiranku di sana. Sebab memang aku jarang sekali terlibat dalam keramaian yang mengumpul seperti itu. Sayang sekali meski sudah teramat sangat bersemangat, ternyata aku tetap belum waktunya ikutan reunion itu. Sabtu kemarin kebetulan, kakak yang dari luar itu datang, anaknya ulang taon, lalu kakak yang rumahnya tetanggaan juga ngerayain kawin perak, pleus di rumah sini juga kebetulan lagi mau ada tukang-temukang, Begitu alasanku pada Beb!

 

Alasan lainnya, yang sebenarnya signifikan juga,  ga disebutin. Biar disimpen di sini saja. Yakni…  lagi kembali jadi fakir nan miskin. Ga sampe jadi mustahik sih, tapi untuk ke luar kota dan mengikuti aktifitas yang agak-agak keluar biaya kayaknya harus ditunda dulu. Hehehe.

 

Hikmah dari padatnya kegiatan itu, insomniak ku jadi berkurang. Jam sembilanan aku sudah tumbang. Dan bangun lebih awal. Asik banget. Karena memang idealnya kita menyegerakan tidur dan bangun. Hanya pada beberapa kesempatan saja yang membuatku terjaga sampai menuju tengah malam. Utamanya kalau sebelumnya sempet mengalami aktifitas yang bernama tidur siang. Seperti ahad kemarin….


Posted at 08:21 am by riadi
Make a comment  

 
Wednesday, November 09, 2005
LEBARAN2. Moments of Money!
Lebaran identik dengan baju baru. Untuk sebagian besar orang demikian. Dan dari yang sebagian besar itu, sebagian besarnya adalah anak-anak. Mungkin terlalu menggeneralisasi, tapi aku melihat fenomena itu di keluargaku. Dari total keluarga inti ortu, lebih dari separuhnya adalah anak-anak. Keponakan yang 23 biji (minus 2 orang yang lebaran di luar), semuanya pake baju baru ketika ngumpul hari pertama syawal. Beda sama masa kecilku, para keponakan yang adik kakak, jarang yang seragam kostumnya. Entah kenapa. Tapi memang kalau aku ingat dulu, dan melihat foto-foto jaman dulu, kesannya malu-malu nista gitu. Hehehe.

Lebaran memang jadi hari paling istimewa buat para ponakan. Istimewa karena selain pake baju baru, pundi-pundi harta bakal bertambah dengan rupiah. Yup. Yang namanya salam tempel masih menjadi tradisi. Dan mereka semua sangat aware dengan tradisi yang menguntungkan bgeto.
Bagaimana tidak, hitungannya selain dari orang tua masing-masing, mereka juga dapet dari para paman, bibi dan abahnya. belom lagi dari pihak keluarga besar sebelah ibu atau bapaknya yang bukan dari keluarga ini.

Fidz, ponakan ndut yang masih sd sdikit bekomentar tentang jumlah pemberi salam tempel.

” Uti ga ada, yang ngasih jadi berkurang ya....”

Ibunya langsung negor.
Yang lain sih ketawa saja karena lucu. Kakakku ikut urun komentar.

Kata siapa berkurang, rejeki gak kemana Fidz. Insya Allah akan jadi barokah..” sangat dalem. Aku curiga apakah Fidz yang baru 9 taon bisa mencerna atau tidak. Heheheh.

Tapi ponakan yang lain membantah. Hudhud yang udah kelas enam, tapi secara fisik dan attitude dan pemikiran suka disalahtanggapi sebagai kelas 2 (apalagi kalu sama orang yang tdk familiar) memberikan komentarnya.

” Tahun kemarin aku dapat lebih banyak. Sekarang cuma dapat seratusan saja..”

Ketawa lagi. Dan kakakku yang lain ganti merespon.

Jangan melihat ’cuma’ Hudz... Coba hitung lagi. Sini Om bantu....Bisa sampe berjutajuta lho.."

” Iya Om?” Hudhud lngsung antusias dan mengeluarkan seluruh hartanya dari kantong, dan menghitung lembaran kertas yang masih baru dan bau bank, dibantu Om-nya.

” Cuma 190 ribu...” nada dan irama suaranya rada kuciwa, dan pemilihan kata pun masih menggunakan ’cuma’.

Kakakku langsung menetralisir...

Hitungnya bukan 190 ribu, Hudz. Tapi nol koma 19 juta. Juta. Nah, dapatnya jutaann kannn..."

Hudhud mau ga mau ketawa. Meski rada terkicuh. Kite juga. Dan keponakan yang usia SD ke bawah pun semuanya mengkonversi nilai ratus ribunya menjadi nol koma sekian juta. Puas deh. Hehehe.

Buat para ponakan memang secara kuantitas pemberi berkurang. Ibuku, atau Uti mereka sudah tiada. Dan seorang kakakku dan keluarganya baru akan datang ke Bandung sepekan kemudian, yang mana pastinya sudah bubar dong ngumpulngumpulnya. Tapi ada sedikit penambahan jumlah. Ponakan no 1, Mumiar alias pinky-hearted boxer nephew, tahun ini ikut membagi pada adek dan sepupunya. Hihihi, secara dia masih juga dapet dari ortu dan paman serta bibi.

Lebaran memang berbagi kebahagian. Untuk sesuatu yang bersifat rupiah, lebaran adalah saat yang pas.
Ga salah kalau para gepeng juga jelang lebaran ini menyerbu bandung. Dari berita di koran, ada keluarga gepeng yang turun temurun sengaja menadah rupiah di hari Raya. Dan pendapatan mereka mencapai angka yang di luar dugan. OMG.

Sisi positifnya, ternyata di jaman susah gini, masih banyak juga oang yang mau berbagi. Perkara tepat guna atau tepat sasaran, itu yang harus dikaji lagi.

Sampai sekarang aku pun tetap beranggapan dari sejarah masa silamku, saat-saat berjaya dengan rupiah memang pada masa Hari Raya. Satu-satunya moment di luar hari raya, ketika aku dihujani banyak rupiah adalah saat  dikhitan lebih dari dua dekade silam. Waktu itu, hasil dari pameran pembangunan, aku menangguk 89 ribu rups dan 20 dollar australi. Dengan uang segitu, aku dapet sebuah sepeda, dan sisanya di tabung (idealnya). Hihihi, kenyataannya aku nabung diberbagai warung jajanan. Cuma yang dollar itu ditabung beneran.

Posted at 07:07 am by riadi
Make a comment  

Previous Page Next Page