Tidur siang yang lumayan pules membuatku jam sembilan ga ngantuk. Apalagi sempet-sempetnya minum es kupi ketika maghrib menjelang. Jadi meski jam sembilanan aku sudah ada di sini di pembaringan aku sendiri, menanti sampai akhir hidup ini. Di hatiku tyada yang lain selain dirimu, kau pelita hidupku, di hatiku tyada yang lain selain dirimu, kau tumpuan harapan yang terakhir (maaf yang cetak miring itu lagunya pantje yang dinyanyiin meriam bellina tahun 80an ketika dia masih belia).
Speaking of 80-an, tangan yang bosan memijit-mijit remote tibatiba berhenti di Lativi. Semula aku tidak terlalu semangat melihat penggambaran suasana kota Jakarta yang keliatan kuna. Seberapa kuna? Aku simak dalam-dalam, dan ketika aku mengenali muka cewe yang bersepeda di sepanjang harmoni, jantungku berdegup. Itu Enny Beatrice! Seseorang yang terkenal di masanya. Bisa disetarakan dengan Sarah Azhari jaman sekarang.
Biasanya Lativi muter acara layer tancep dengan film-film tahun 90an. Jadi bisa dibayangkan, ini sebuah tontonan yang patut dinikmati sebagai penggemar era 80an. Lepas dari buruknya cerita, acting dan teknik film yang dibikin, paling tidak atmosfer masa itu kerasa banget-banget. Kalau ga percaya, terlihat dari kostum yang dikenakan, tatanan rambut, dan adegan jeng Enny yang lagi ngibing. Bisa dipastikan film itu agak-agak kepengaruh film Jen Beals yang aku tonton ketika kelas 6 sd. Ada adegan tarian bak flashdance gitu lho. Hihihi…
Peran utama prianya, sodara kandung penyanyi kondang Christine Panjaitan. Sapa lagi kalo bukan Robin Panjaitan. Kebanyakan film Robin, setipe dengan Richie Ricardo. Rada-rada komedi seks dan banyak cengengesan. Jadi agak aneh juga kok bisa dipajang bareng Enny yang lebih ‘seurieus’.
Sebelum Tora Sudiro bertato, Robin sudah duluan pasang. Cuma gambar jelasnya ga begitu keliatan. Lalu ada dua side-kick dia. Yang satu cakep buanget, satunya lagi ndut. Kelaziman seperti itu sudah sangat biasa. Peran utama, dengan ‘dayang-dayang’ yang secara physical appearance bertolak belakang. Berapa banyak sinetron yang mengikutinya? Gak keitung…..Dan kenapa ya, penggambaran obese person (terutama cewe) selalu saja memperlihatkan dia berdialog sambil megang bungkus cemilan? Duhh aku merinding melihat mendiang Tarida Gloria pake gaun pesta backless item, ditemani se-tube Pringles…..! Sangat ga matching.
Sama ga matchingnya adalah antara judul dengan kandungan film itu. Gairah Pertama. Itu judul yang sangat provokatif. Sementara penggambarannya menurutku lebih cocok dengan Gairah KeSebelas, atau KeSeratus. Pokoknya dua digit ke atas. Karakter Enny diceritakan lugu, tapi kok penggambarannya bebas banget, penari erotis pula. Dipertemukan dengan trio playboy yang ga jelas profesinya. Dibilang mahasiswa, kok pelajarannya mengetik. Hehehe.
Robin yang naksir jeng Enny, tapi si lugu itu lebih memilih Roi, yang emang lebih cakep. Kebablasan akhirnya hamil. Adegan cengengesan pun berganti dengan derai airmata, dan dialog verbal yang standar. Si Roi tidak mau bertangung jawab,karena dia playboy beneran. Si Robin marah dan betengkar. Saling ngatain dan berantem di sebuah amusement centre. Dilerai sama si ndut, dengan kalimat pemisah yang juga standar…
” malu diliatin orang…”. Nah kalau lokasi ributnya di rumah, pasti line itu berubah menjadi “..malu sama tetangga”. Waksss…!
Singkat cerita, si Robin yang mau bertanggung jawab. Meski Enny rada-rada nolak. Dan dari pertengahan film, sampai jelang akhir akting Enny mewek mulu. Heran deh. Malah sempet minum baygon pula. Beneran. Keliatan kaleng obat nyamuknya. Padahal kan ga boleh nyebut merek. Hehehe….
Ending film ga ketauan. Aku keburu bosan. Tapi kalau boleh nebak, Enny pasti milih Robin. Itu lebih komersial daripada dia balik lagi sama si cakep itu. Aku membayangkan Enny dan Robin kejarkejaran di sebuah taman dalam adegan lambat……
End of story
Yang blom berakhir adalah… sms-an sama dua kambrat yang dengan sengaja aku bagi info tentang film ini. Yang satu menangapinya dengan ‘sesuai’. Yang satunya lagi, dia sms dari KTS, dan responsnya di luar konteks. Ndilalalh, dia malahan nanya
“The Six & Bionic Woman itu tahun 70-an apa 80-an ya?”
Aku jawab dengan benar. Eh, dia manjang lagi dengan nyebutnyebut judul lainnya, macem Happy Days. I Dream of Jeannie, Man from Atlantis dan Giants (mmm mungkin maksudnya Land of The Giants. Kalo Giants doang kan bisa jadi pasar hiper gengnya Hero atau panggilan sayang Takeshi yang musuh bebuyutannya Nobita). Aku berikan lagi jawaban, dan diimbuhi dengan pertanyaan,” lagi bikin apaan sih?”
Jawaban dia aku kutip dengan sebenar-benarnya…
“Ada yang kirim tulisan ke blog 80an. Perlu verifikasi. Ya ke sapa lagi :p?
ANJRIT ! (oopss…..)
Posted at 08:32 am by riadi
Permalink