Riadi

Riadi


seseorang yang terlalu diokupasi oleh masa silam
delapanpuluhan
dan agak terlalu menikmatinya:D
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Saturday, January 21, 2006
Belum Ada Judul....
Ini cerita ringan dari ponakanku nomer 1…

Mumiar yang tahun kelahirannya sama dengan Pangeran William adalah cucu yang paling dinantikan Ibuku. Jadi ketika dia lahir, dan kebetulan bapak-ibunya pekerja, ibuku harus sering berada di Bandung meninggalkan aku yang masih butuh kasih sayang dan perhatian. Cieee….. Aku ingat begitu ibuku berangkat ke Bandung, aku langsung tulis surat di kartu pos yang berisikan satu kalimat, “ Mih enggal uih..” namun ditulis berulang-ulang membentuk lingkaran seperti obat nyamuk bakar. Dan surat itu masih ada…..!

Sekarang Mumiar sudah Sarjana dari Perguruan Teknik terkenal di Bandung. Dan lagi sering ke Bontang dan Tarakan. Meski secara umur sudah dewasa, tapi kalau lagi kumpul keluarga dia mendapat gelar “ Raja Budak”, sehubungan dengan kemampuan berelasinya dengan 22 adik dan sepupunya yang usianya jauh lebih muda. Bahkan salah seorang sepupu-adik sepupunya, seorang cewe usia 8 tahun, sangat terkesan ketika Lebaran kemarin dia terlibat obrolan serius dengan Mumiar. Sampai saatnya pulang, gadis kecil itu ga mau pulang sebelum pamitan sama Mumiar. Dan cowo yang mau dipamitin itu ternyata lagi asik main game computer sama piyik-piyik lainnya…

Secara latar belakang pendidikan, Mumiar pernah mengalami pasang surut terutama ketika menginjak SMA. Agak mengkhawatirkan tapi berkat kegigihannya dan dorongan ortu-nya, masa-masa krisis itu pun lewat. Begitu masuk kuliah pun, dia sempet menolak ikutan kegiatan opsek jurusan. Hiii.. katanya kalau ga ikutan bakal dikucilikan. Ternyata ndak. Malahan dia ikutan aktif di bulletin kampus. Dus di luaran dia juga jadi coordinator riset sebuah kelompok penerbitan nasional untuk Bandung dsk, dan saat-saat nyusun skripsi malah dia sempet ikutan Komunikata segala…

Dari teman segang di kelompok Komunikata itulah, Mumiar mendapatkan cerita ini yang kemudian diteruskan kepada Om-nya. Akupun mencoba berbagi di sini.

Temen Mumiar memang kebanyakan bukan orang Bandung. Suatu ketika orang tuanya datang nengok anaknya. Sekalian jalan-jalan deh. Tahu sendiri wiken Bandung penuh dengan orang luarkota yang nyerbu FO, Distro, tempat makanan, tempat jajanan dan penginepan. Nah, karena suatu sebab rombongan orang tua temen Mumiar itu terpisah. Ibunya masih blanja-blanji, sementara bapaknya yang mungkin jenuh, bosen, laper atau apa akhirnya keliling di luar dan masuk ke sebuah rumah makan sunda yang ada di bilangan martadinata, spot-nya FO kota Bandung. Telepon si Papa itu pun berdering..

“ Pah.. papa dimana? Mama sudah selesai blanja ni. Mama belikan boxer OLD NAVY buat papa..” (sst.. ini dialognya imajinasi doang…..)

“ Mama aneh-aneh saja. Beli kok bokser. Malu mah.. bolong tengahnya…”

“ Si papah… Yang penting mamah suka !”

“ Hmmm Orang Bandung ada-ada saja ya bikin kancut…”

“ Hihihi…. Papah dimana nih? Jemput mamah dong…Kok mamah ditinggal?”

“ Sori mah.. Papah kelaparan nunggu mamah shopping. Ini lagi makan. Deket kok dari tempat mamah”

“ Mmmm mamah juga laper. Papah lagi makan apa? Mamah ke sana ya…”

“ Timbel, pepes, lalap.. enak mah. Makanan sunda. Ayuh mamah lekas ke sini..”

“ Di restoran apa ?”

“ Rumah makan WILUJENG SUMPING?”

Gubraaaaaak…..

Si papah itu ga tahu ya… kalau wilujeng sumping itu artinya sama dengan keset alias WELCOME alias Selamat Datang. Dan memang hampir semua rumah makan sunda memasang plang WILUJENG SUMPING di setiap pintu masuk…

SO mudah-mudahan si mamah ga salah masuk restoran……!!!

Posted at 11:37 am by riadi
Comment (1)  

 
Wednesday, January 18, 2006
LONGING FOR KAMBING ---- a RED MEAT-SEASON RHAPSODY
Iedul Adha memang sudah seminggu lewat.

Tapi rasanya baru kemaren aku sholat Ied. Tidak, sekarang aku tidak melakukan sholat di depan rumah Ariel kayak Iedul Fitri. Dan Fiddut pun yang dari jauh-jauh hari berencana untuk bawa kamera nyatanya tidak bisa memenuhi hasrat buat bisa berfoto bareng Ariel yang lagi pake baju koko. Selain karena Ariel-nya ga lebaran di sini, Fiddut harus ngikut kedua ortunya untuk melakukan ibadah di Kampung Bapaknya mengingat kurban keluarga kami setiap tahunnya memang selalu dilakukan di sana.

Nah, karena Ariel dan Fiddut ga ada, rasanya aku pun ga perlu jalan ke balai RW untuk sholat Ied di sana. Cukuplah di lingkungan RT saja. Di Mesjid kecil bernama Nurul Hidayah. Ketua DKM-nya papa si Fiddut itu. Para jemaah laki-laki tertampung semua di dalam, sedangkan pasukan Mukena ada di luar koridor mesjid. Ibadah berjalan khusyuk. Dan setelah sholat dan khutbah usai, barisan panjang melingkar pun terbentuk. Yup… salam-salaman..!

Acara potong hewan Qurban dimulai jam 8. Alhamdulillah, kata sekertaris DKM Mesjid, tahun ini yang berkurban meningkat. Ada 4 sampi dan 19 wedhus yang akan disembelih, dengan kata lain mewakili 47 individu.

Tahun ini keluargaku berkurban seekor sampi saja. Tidak ada wedhus. Padahal paling asik ada kambing buat sate-satean. Jadi ga salah kalau dalam hati, ada sedikit tersembul harapan dapet kiriman sekantung kecil daging kambing dan jerohannya. Sebelom pindah ke sini, di lingkunganku yang lama saban tahunnya kerap mendapatkan kiriman atas hewan yang dikurban dari panitia. Selalunya aku yang mengkonsumsi sendiri mengingat di keluargaku tak ada sodara lain yang makan kambing baik dengan alasan selera ataupun kesehatan.

Harapan memang tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Penantian yang ditunggu-tunggu berakhir dengan 'kekecewaan'. Siang menuju sore, rumah rame dengan Bapak, kakak dan ponakan. Rumah begitu hidup dan terbuka ga seperti biasanya. Dan waktu itulah aku melihat rombongan pembagi daging kurban mengetuk rumah depan. Lama juga mereka mengetuk sampai akhirnya dibukain pintu, dan sebungkus kresek hitam pun berpindah tangan. Harap-harap cemas aku menanti giliran.

O my God…. Ternyata setelah itu, rumah yang lagi terbuka, ramai dan hidup itu dilewat begitu saja. Ingin rasanya aku berlari mengejar dan berteriak, WHY?? WHY ME??? Tapi lidahku kelu. Dan gila saja, MALU tahu… lagian juga mungkin karena kami belum genap setahun tinggal di lingkungan ini. Wait wait…. Rumah yang di sebelah rumah depan itu kok dapet. Padahal secara kronologis pindahannya lebih 'baru' daripadaku…

Hidup memang tidak adil. Hiks!

Maghrib tiba, rumahpun tiba-tiba serasa dipenuhi aroma sapi. Ada 30 kilo lebih daging segar yang kemudian dibagi tujuh. Yang tetap disini dan siap diolah mungkin sekitar 3 kiloan pleus tulang-taleng dan hati. Mmmmmm… malam itu juga langsung mulai prosesi pengolahan. Sebagian di rendang, sebagian jadi semur dan yg jadi favoritku tentu saja dibikin gepuk suir. Enyak enyak enyak… manis gurih sedep pake bawang dan aroma ketumbar. Tulang – talengnya yang masih ditempeli daging tebel dibikin sop dengan bumbu garem doang dan ekstra lada. Pedessss… Sementara hati si sapi tentu saja di sambel goreng dengan pemanis warna hijau bernama pete.

Tapi tetep serasa ada yang kurang. Hati ini mendamba… pengennya nyate. Tapi ga asik kalo sapi di sate. Maunya kambing. Duh wedhus… mengapa kau begitu jauh tahun ini.

Hari Tasyrik kedua, ketika diri mulai rada eneg makan sampi, kakakku yang masih satu kompleks tapi beda kelurahan telpon.

" Rud mau nyate… Ini ada yang ngirim daging dari RW. Baunya sih kambing…"

" Mau dong…" aku menjerit, nyaris histeris," Bawa saja .. nyate di sini. Oya, sekalian bawa arang, tempat bakaran dan tusukannya.."

"Gubrakkk..!"

Dan malamnya, kakakku dan anaknya datang bawa apa yang aku pesankan..

" Nih.. semuanya 14 rebu perak…" kakakku ternyata niat banget membelikan semua piranti pembuatan sate. Hihihi. Asik asik asik… bakal baker-bakar kambing nih.

Tapi ketika si kantong daging yang dia bawa dibuka…, aku menjerit lagi.

" Kok BUKAN Kambing…Baunya beda!" Kakakku merebut kantong plastik itu dan mengeluarkan isinya…

 " Hah… biasanya kambing. Terus tetangga juga dapatnya kambing… Ya udahlah ga apa-apa…"

Memang ga apa-apa. Acara bakar sate tetap berjalan dengan semestinya. Tapi dua kali sudah harapan nyate kambingku lebur ….

Untuk mengobati kekecewaan itu, aku pun berencana wiken ke Jakarta. Ga ada hubungan sebenarnya. Hihihi. Kangen Jakarta saja. Gilanya, Jakarta gak kangen sama aku. Hujan mulu. Dan jadi kena flu. Terus ga ada satu temen yang ketemu. Hiks.. Aku pun kembali ke Bandung dengan lesu. Manalagi sapi-sapi olahan itu masih terasa di hidung membau. Belum habis juga...oh tidak….!

Dan kemarin aku ditelpon sama kakakku yang lainnya. Kebetulan kakakku memang banyak. Dan kebanyakan ngumpulnya di Bandung pula. So, ketika dia menyuruhku datang aku pun datang. Dan ketika aku pulang, langkahku terasa ringan dan bersemangat. Hatiku membuncah oleh perasaan suka cita yang mahadaya. Apa coba… Bagaimana tidak, di dalam backpack idjo dekilku tersimpan harta karun bernama daging kambing dan jeroannya yang terbungkus koran tebal. Time to Action..!

Di rumah cuma berdua sama kakakku  yang lainnya. (sst, nanti ada quiz yang pertanyaannya: Dari isi postingan ini, ada berapa Kakak yang disebut-sebut? Hehehehe) Akupun menelpon para ponakan. Sayang berhubung sudah malam sekolah, ga ada yang datang. Hmmmm, males juga kalau nyate, repot. Ngolahnya tdk praktis dan lama. Belum lagi bikin bara dan asap-nya.

Ya udah, akhirnya aku masak biasa saja. Sebagian dagingnya yang sudah keburu di potong dadu kecil-kecil buat nyate, akhirnya cuma digoreng pake saus BBQ-Pala. Sisanya diiris tipis dan dimasak sebagai semur bersama irisan kentang goureng. Sedangkan potongan jerohan macem usus, handuk (alias babat), hati, lemak dan serpihan-serpihan aneh lainnya dibikin empal gentong. Semuanya serba cepat. Sudah kebayang makan malam yang seminggu ini dinanti-nanti akhirnya terpenuhi.

Piring sudah di tangan, aku buka magic jar. Tak ada nasi. Tak masalah. Aku tahu jurus masak nasi yang super cepat. Aku buka tempat beras, dan kejutan BESAR menohok. Tempat itu kosong. Ga ada sebutir pun tersisa.

" Tidaaaaaakkkk…………….".

" Woi, knape lo..?" kakakku merasa terusik dengan teriakanku," Malu sama tetangga…"

Alah..! Kalimat standar sinetron Indonesia itu…..

" Kok ga ada beras?"

"Iya, tadi hansip datang nagih perelek. Untung masih ada. Aku kasihin semuanya saja.."

Perelek atau beas perelek itu semacam iuran bulanan tapi berupa beras yang dikumpulin sama petugas RT/Hansip.

Tinggalah aku yang bengong…
Ada tiga hidangan Kambing panas panas siap santap.
Tapi tak ada nasi lain…!
Dan malam itu aku makan kambing tho!


Posted at 09:47 am by riadi
Comments (5)  

 
Tuesday, November 29, 2005
BERKAH NOVEMBER

November ini tanpa disengaja dan disadari aku banyak melihat seleb (yang juga ngaku manusia, seperti Rocker!) dalam suasana keseharianku. Dari mulai yang ngetop sampe yang agak ngetop, dari yang sudah (agak) bangkotan sampe yang baru jadi. Mungkin ini berkah dari bulan Syawal. Sementara orang lain mengisinya dengan acara kawinan, aku mengisi Blog aja deh. Hehehehe.


Seleb pertama yang kuliat tak lain dan tak bukan adalah Ariel Peterpan. Meski harusnya ga masuk hitungan. Toh dia masih termasuk tetangga. Tapi karena baru pas lebaran itu nyadarnya, jadi masuk juga sebagai bagian dari kejutan November,


Seleb yang kedua, harusnya juga tidak masuk ‘berita’. Soalnya masih mengandung unsur nepotisme. Yaitu jadi ‘seleb’ karena keterkaitannya dengan real seleb. Yup, Sarah Amalia, alias Lia yang isterinya Ariel keliatan lagi belanja di toko kelontong komplek. Ga banget gitu. Tapi salahku juga sih. Waktu berita pernikahannya yang di Sidoarjo itu, kebetulan aku sempet ke-gap sama infotainment yang menayangkan. Ssst, baru aku tahu kalau mereka nikah karena MBA. Hiks. Keduluan kawin lagi …..!


Berikutnya ada artis bangkotan yang keliatan lagi ngantre di antrian kasir sebuah pasar super. Pertamanya kakakku yang ngenalin cowok hitam manis berkaus krem berjaket coklat, dengan pet yang rada2 menenggelamkan matanya. Iparku juga serasa mengenali, tapi ga komentar apa-apa. Aku sih langung haqqulyaqqien… itu mah Utha Likumahuwa. Salah satu andelan Jackson Record, masa 80-anbareng Vina (sebelum ke Harpa), Chrisye (sebelum ke Musica). Lidya-Imaniar (sebelum ke Prosound), Kiki Maria (sebelum tenggelam dan terlibat pertikaian dengan suami ibunya, Suzzanna yakni Clift Sangra. Bapak ini ga ada hubungan kekerabatan sama Eet Sangra penyanyi dangdud 90-an yang suaranya mirip2 Dolores O’rio-rio pentolan Cranberries).


Duh jadi terkenang album masa silamnya.


Bersatu Dalam Damai. Albumnya bergambar dia pake kemeja putih dan berdasi sambil memegang burung (secara harfiah lho). Kumisnya tebel, dan waktu itu dia belom botak banget. Album berikutnya, dia cukur rambut dan kumis. Nuansa warna biru.Berpose ala Cleopatra, dengan kemaja berplooi putih dan kancing sebagian kebuka membuat bulu dadanya nongol. Hehehe, judulnya apa ya. Cuma dua album itu yang aku punya dulu. Dan dua-duanya hilang berikut tape mobil yang kebetulan lagi parkir di pusat perbelanjaan. Selebihnya lagu dia yang aku suka, adalah dari festival lagu ASEAN, di Philipina, di mana dia jadi penampil kedua terbaik setelah Elfa’s Singer tapi lagu yang dia bawakan yang jadi juara. Kalau ga salah ciptaan Budi Bidhun. Judulnya? Sesaat Kau Kadir, eh Hadir. Pasti semua tahu. Masih sering dinyanyikan orang-orang kok….


Nah lagu yang dibawakan Elfas, yang jadi juara kedua. Judulnya lupa, tapi pasti ingat kalau ada sedikit hint saja. Yup inget sekarang. Kau Kasihku! Ciptaan Tony Sianipar, personel awal yang kemudian lebih suka berkecimpung di kantor bank. Waktu itu para personel Elfas yang manggung adalah, Toni, Yana Julio, Agus Wisman, Lita Zein, Ferina dan Fia yang dokter gigi itu.


Prestasi intenasional Utha lainnya, adalah di festival Asia-Pasific di Hongkong. Para finalis menyanyikan lagu-lagu oldies 60/70an. Dia jadi runner up setelah Regine Velasquez. Duhhh, mereka nyanyi lagu apa ya??? Yang aku ingat malah peserta dari Hongkong, bernama Queenie Chan. Dia nyanyi lagu ‘ You Don’t Have To SaY You Love Me’ dengan aksen cainis yang masih kerasa. Kebayang oldiesnya kan….!


Seleb berikutnya, aku ga bakalan ngerti kalau pas lagi ga jalan sama Fiddut. Abis dari BEC, nganterin dia nyari asesori HP, ponakanku yang pemirsa lumayan setia kontes API eh AFI di Indosiar itu menyenggol lenganku dan bilang,


“Om, itu Tiwi…”

“Panggil saja, Fidd…” kupikir itu temennya

“Hihihi, ga. Ntar dia kegeeran…”

“Lha?”

“ Tiwi AFI. Itu tuh, yang duet sama Bojes”.

“Bojes API?”

“Bajaj yang API. Bojes..jes..jess…!”


Si Fiddut emang gemar Bojes, tapi ga begitu suka Tiwi. Padahal, dia cantik juga. Meski dandanannya agak berlebihan untuk seseorang yang lagi berdiri di pinggir jalan yang ramai dengan orang dan kendaraan. Mungkin itu gejala standar seleb baru jadi. Kulihat orang banyak juga lumayan bereaksi seolah mengenalinya.


Seleb kelima di Bulan November ini yang paling heboh. Miaz, ponakan nomor dua yang gemar fotografi, hari itu ulang tahun. Keluarganya merayakan di Atmosphere, sebuah tempat makan yang lumayan rame dan mengkilap. Aku sebagai paman dan tetangga, tentu saja diajak juga makan-makan. Rrrrrrr… haratisan, who can resist ! Not me of course :D


Ga ada acara khusus, Cuma makan bersama. Lumayan rame juga di sana. Dan ada satu sosok yang bikin lebih rame lagi. Kutebak dia artis ternyata benar. Duhh, dengan dandanan item rada glitter dan rambut besar agak pulas pirang (Buccheri!).. kupikir aku melihat Mariah Carey. Nyaris. Aku selalu melihat kemiripan antara Mariah Carey secara tampilan dengan Mbak Penyanyi Kondang angkatan 80-an ini. Meski mungkin bakal diprotes Jayanthi.


Yep, wanita yang jadi pusat perhatian itu adalah Endang S. Taurina.


Dia melantunkan beberapa lagu dengan suara yang khas. Tapi entah kenapa, meski lagu yang dia nyanyikan secara sesuai dengan suasana malam dan kostumnya, dalam pikiranku malah melayang ke awal dekade 80an ketika televisi di Indonesia mulai ada warnanya. Aku ingat Endang tampil dalam suatu acara yang pasti bukan Taman Bhinneka Tunggal Ika, Cakrawala BUdaya Nusantara, Nusantara Menari, Nusantara Menyanyi, Bina Drama, Pembinaaan Bahasa Indonesia, Mimbar Televisi, Gema Pancasila, Ayo Menyanyi, Lagu Pilihanku, Film cerita Akhir Pekan, Dari Masa ke Masa, Aneka Ria Anak-Anak etc. Waktu itu dia dengan mengenakan overall Orens menyala dengan daleman warna putih. Keliatan lincah, sporty dan bersemangaT!!

Samar-samar visualisasi itu ditambahi dengan audionya…


Rakyat dan ABRi sejiwa tulang punggung Endonesia

Bersemarak nusantara menuju makmur sentosa

Jangan ragu-ragu, pantang mundur terus maju

Untuk ABRI, sukses dirgahayu


“Kok ada Endang di sini?” aku bergumam. Kayaknya ga hip banget gitu.. di tempat cool seperti ini ada seseorang yang dulu pernah menyanyikan lagu patriotis ciptaan mendiang A.Riyanto.


“ Memang kenapa?” kakakku yang notebene ibunya Miaz dan agak sebaya Endang menanggapi. Berikutnya statement dia lumayan bikin aku gubrakk…..


” Endang yang punya Atmosphere kok!”


Dan pertemuan dengan selebritis selama November semoga berakhir cukup sampai di sini.





Posted at 08:31 am by riadi
Comments (5)  

Previous Page Next Page