Sudah beberapa bulan ini di rumah Fidut terdapat sembilan ekor kucing. Generasi pertamanya,
tentu saja si Awel, yang total jendral sudah melahirkan empat kali. Sayang dari kelahiran yang pertama yang berjumlah tiga ekor, tidak satupun bertahan. Tahun kemarin dia melahirkan lagi tiga ekor kucing, dua di antaranya tumbuh kembang sejahtera yaitu si Kooning dan si Kaboo. Kelahiran ketiga menyisakan si Kunyil yang hampir sama sebangun dari bentuk muka, bentuk tubuh dan warna bulunya. Si Kunyil sekarang lagi centil-centilnya di masa puber dalam kehidupan seekor kucing. Begitu fresh dan tebar pesona. Beda dengan penampilan induknya setelah melahirkan untuk ke empat kalinya. Awel sekarang berubah m
enjadi tua dan tirus. Namun tetap elegan dan bawel. Anaknya bertambah tiga dan lagi lincah dan jorok-joroknya.

Tidak lama setelah itu, si Kooning
pun melahirkan dua ekor anak yang semuanya berbulu kuning namun ga
berbuntut. Wah—kecurigaan langsung menuju pada kucing jantan liar
bermata sipit yang biasa dipanggil si Kecret, merujuk kebiasaannya yang kalau nongol ke rumah buat ngegodain kucing betina suka sambil cretttt…cretttt meninggalkan gumpalan eek. Hiiiiii! Bukan kebetulan si Kecret juga memiliki bulu yang kuning dan berbuntut pendek!
Dari
kesembilan ekor kucing di rumah tetangga ini, hanya tiga yang dengan
kesadaran sendiri sempat berkunjung ke rumahku. Tidak begitu jauh
memang. Hanya beda 5 rumah dan satu belokan.
Awalnya
adalah si Kooning dan si Kaboo sewaktu menginjak masa-masa remajanya.
Pada saat itu mereka mengikuti Epicen, kakaknya Fidut yang disuruh
mengantarkan logistik buat Om-nya yang mustahik. Selanjutnya hanya
Kaboo yang suka rutin datang sendiri. Kadang nongol dari pintu depan,
namun acap pula nyebrang dari atap ke atap, lalu turun melalui tangga
aborsi dari tempat jemuran.
Kooning
memang tidak pernah datang lagi, apalagi kemudian doi hamil dan
melahirkan. Perannya sudah jadi ibu-ibu. Nah, si Kaboo sebagai kucing
jantan, bebas-bebas saja dia keluyuran. Mungkin dia ngerasa sumpek juga
di rumah sana, mesti rebutan perhatian dan makanan sama emak, adik-adik
dan keponakan. Lagian dengan tongkrongannya yang gagah dan besuar, malu
dong mesti ngucrug sambil nyikut kerabatnya yang kecil mungil itu. Hehehe.
Awal
mula kerutinan datang ke rumah, kami tidak menyambut Kaboo dengan suka
cita. Kebiasaannya yang suka mengintili, sambil ribut mengeong dan
menggesel-geselkan diri ke kaki sungguh amat mengganggu. Terus kalau
tidak diperhatikan karena saya lagi main komputer, dia suka loncat ke
atas meja dengan semena-mena dan dengan ribut menginjak-injak keyboard.
Tidak sopan. Dimarahin bukannya instropeksi diri, malah ganti loncat ke
meja makan, dan ngoprek-ngoprek makanan . Kalau beruntung dia suka
melahap apa yang tertinggal di sana. Kue Sarang Semut yang sengaja
dibikin buat menyambut lebaran pun tak luput dia santap. Huh, tahu
makanan enak dan bergizi juga itu kucing.
“ Kaboo ga senakal itu kok..” Epicen membela yang diamini Fidut ketika
saya menyampaikan keluhan atas kurangnya etika pada kucing mereka itu.
“ Lihat tuh dia begitu anggun bersahaja ..” Fidut menambahkan yang tentu saja membuat saya geram.
Dasar
kucing berkepribadian ganda. Di rumahku dia ribut tak bisa diam,
sementara di depan majikannya tampak alim berwibawa. Malah suka
mengemong adik-adik dan keponakannya. Main kejar-kejaran, gulat-gulatan
atau sekedar jilat-jilatan. Dan tidak pernah itu yang namanya
mengintili kaki orang untuk menggeselkan kepalanya.
“ Makanya dikasih makan dong, Om.…”
“ Eh ga bisa. Dia boleh main ke rumah, tapi kalau urusan maem sama eek mesti pulang dulu. Begitu perjanjiannya..,” aku menukas.
“ Perjanjian sama siapa?” kedua ponakanku itu saling memandang.
“ Ya sama si Kaboo dong…”
“ Yeee…emang dia ngerti”.
Sutralah…
Sampai sekarang Kaboo masih rutin bertamu. Dan kami tetap tidak
menyediakan secara khusus makanan buatnya. Syukurlah sejauh ini Kaboo
menghormati perjanjian untuk tidak minta makan atau eek sembarangan.
Satu kali pernah dia terkunci di dalam rumah seharian. Kaget pas masuk
rumah, di kursi tamu Kaboo masih melingker . Langsung inspeksi segala
penjuru sambil mengendus-endus, alhamdulillah tidak ada bau
mencurigakan. Sekarang malah dia lebih menjaga tingkah laku. Sudah
tidak berkepribadian ganda lagi. Aselinya yang anggun berwibawa muncul,
sampai-sampai keponakanku yang masih TK mengomentarinya ketika datang
bertandang berkomentar ,
” Kucing manis……”
Dan Kaboo memang menjadi manis.