Riadi

Riadi


seseorang yang terlalu diokupasi oleh masa silam
delapanpuluhan
dan agak terlalu menikmatinya:D
   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Wednesday, November 15, 2006
CATS STORY. continued.
Sudah beberapa bulan ini di rumah Fidut terdapat sembilan ekor kucing. Generasi pertamanya, tentu saja si Awel, yang total jendral sudah melahirkan empat kali. Sayang dari kelahiran yang pertama yang berjumlah tiga ekor, tidak satupun bertahan. Tahun kemarin dia melahirkan lagi tiga ekor kucing, dua di antaranya tumbuh kembang sejahtera yaitu si Kooning dan si Kaboo. Kelahiran ketiga menyisakan si Kunyil yang hampir sama sebangun dari bentuk muka, bentuk tubuh dan warna bulunya. Si Kunyil sekarang lagi centil-centilnya di masa puber dalam kehidupan seekor kucing. Begitu fresh dan tebar pesona. Beda dengan penampilan induknya setelah melahirkan untuk ke empat kalinya. Awel sekarang berubah menjadi tua dan tirus. Namun tetap elegan dan bawel. Anaknya bertambah tiga dan lagi lincah dan jorok-joroknya.

Tidak lama setelah itu, si Kooning pun melahirkan dua ekor anak yang semuanya berbulu kuning namun ga berbuntut. Wah—kecurigaan langsung menuju pada kucing jantan liar bermata sipit yang biasa dipanggil si Kecret, merujuk kebiasaannya yang kalau nongol ke rumah buat ngegodain kucing betina suka sambil cretttt…cretttt meninggalkan gumpalan eek. Hiiiiii! Bukan kebetulan si Kecret juga memiliki bulu yang kuning dan berbuntut pendek!

Dari kesembilan ekor kucing di rumah tetangga ini, hanya tiga yang dengan kesadaran sendiri sempat berkunjung ke rumahku. Tidak begitu jauh memang. Hanya beda 5 rumah dan satu belokan.

Awalnya adalah si Kooning dan si Kaboo sewaktu menginjak masa-masa remajanya. Pada saat itu mereka mengikuti Epicen, kakaknya Fidut yang disuruh mengantarkan logistik buat Om-nya yang mustahik. Selanjutnya hanya Kaboo yang suka rutin datang sendiri. Kadang nongol dari pintu depan, namun acap pula nyebrang dari atap ke atap, lalu turun melalui tangga aborsi dari tempat jemuran.

Kooning memang tidak pernah datang lagi, apalagi kemudian doi hamil dan melahirkan. Perannya sudah jadi ibu-ibu. Nah, si Kaboo sebagai kucing jantan, bebas-bebas saja dia keluyuran. Mungkin dia ngerasa sumpek juga di rumah sana, mesti rebutan perhatian dan makanan sama emak, adik-adik dan keponakan. Lagian dengan tongkrongannya yang gagah dan besuar, malu dong mesti ngucrug sambil nyikut kerabatnya yang kecil mungil itu. Hehehe.

Awal mula kerutinan datang ke rumah, kami tidak menyambut Kaboo dengan suka cita. Kebiasaannya yang suka mengintili, sambil ribut mengeong dan menggesel-geselkan diri ke kaki sungguh amat mengganggu. Terus kalau tidak diperhatikan karena saya lagi main komputer, dia suka loncat ke atas meja dengan semena-mena dan dengan ribut menginjak-injak keyboard. Tidak sopan. Dimarahin bukannya instropeksi diri, malah ganti loncat ke meja makan, dan ngoprek-ngoprek makanan . Kalau beruntung dia suka melahap apa yang tertinggal di sana. Kue Sarang Semut yang sengaja dibikin buat menyambut lebaran pun tak luput dia santap. Huh, tahu makanan enak dan bergizi juga itu kucing.

“ Kaboo ga senakal itu kok..” Epicen membela yang diamini Fidut ketika saya menyampaikan keluhan atas kurangnya etika pada kucing mereka itu.

“ Lihat tuh dia begitu anggun bersahaja ..” Fidut menambahkan yang tentu saja membuat saya geram.

Dasar kucing berkepribadian ganda. Di rumahku dia ribut tak bisa diam, sementara di depan majikannya tampak alim berwibawa. Malah suka mengemong adik-adik dan keponakannya. Main kejar-kejaran, gulat-gulatan atau sekedar jilat-jilatan. Dan tidak pernah itu yang namanya mengintili kaki orang untuk menggeselkan kepalanya.

“ Makanya dikasih makan dong, Om.…”

“ Eh ga bisa. Dia boleh main ke rumah, tapi kalau urusan maem sama eek mesti pulang dulu. Begitu perjanjiannya..,” aku menukas.

“ Perjanjian sama siapa?” kedua ponakanku itu saling memandang.

“ Ya sama si Kaboo dong…”

“ Yeee…emang dia ngerti”.

Sutralah…


Sampai sekarang Kaboo masih rutin bertamu. Dan kami tetap tidak menyediakan secara khusus makanan buatnya. Syukurlah sejauh ini Kaboo menghormati perjanjian untuk tidak minta makan atau eek sembarangan. Satu kali pernah dia terkunci di dalam rumah seharian. Kaget pas masuk rumah, di kursi tamu Kaboo masih melingker . Langsung inspeksi segala penjuru sambil mengendus-endus, alhamdulillah tidak ada bau mencurigakan. Sekarang malah dia lebih menjaga tingkah laku. Sudah tidak berkepribadian ganda lagi. Aselinya yang anggun berwibawa muncul, sampai-sampai keponakanku yang masih TK mengomentarinya ketika datang bertandang berkomentar ,

” Kucing manis……”


Dan Kaboo memang menjadi manis.


Posted at 11:48 am by riadi

Popi
June 13, 2008   11:35 AM PDT
 
Hai salam kenal. Hihi kucingnya lucu-lucu! saya penggemar kucing, tapi teteeep sebel juga sama kelakuan kucing kalo lagi menyebalkan hehehe
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home