Riadi

Riadi


seseorang yang terlalu diokupasi oleh masa silam
delapanpuluhan
dan agak terlalu menikmatinya:D
   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Wednesday, January 25, 2006
CATS STORY
Di komplek perumahanku banyak kucing berseliweran. Kucing liar tentuya. Setiap teritori pasti ada saja kucing beraneka warna. Satu-satunya yang bisa mengumpulkan para kucing itu adalah tukang sayur. Tiap pagi mesti serombongan kucing mengikuti keretanya. Sapa tahu dapet cipratan rejeki sisa ikan atau serpihan tulang ayam yang dibeli ibu-ibu di sini.

Belakangan intensitas keberadaan kucing itu makin menguat. Tiap malam pasti terdengar suara meong yang jauh dari merdu. Serak-serak pecah. Mana kenceng lagi. Mengganggu. Lebih mengganggu kalau mereka sampai kejar-kejaran di genteng. Huh! Kadang aku siram kalau sudah kelewatan dengan segayung air. Tapi pinternya, hewan itu biasanya sudah langsung ngabur duluan begitu suara pintu terbuka. Jadi belum sempet disiram mereka dah lari tentu saja sambil terus mengeluarkan suara jeleknya itu.

Rumah yang aku tempati sekarang ini juga sebelumnya diokupasi oleh seekor induk kucing berwarna kelabu putih dengan anak-anaknya yang empat ekor. Mereka bersarang di langit-langit. Pertama kaget juga mendengar suara gurubug-gurubug Kirain tikus besar berlarian. Ternyata anak-anak kucing yang lagi gumincir, enak saja berkejaran. Dan kalau sudah kecapean, keliatan mereka gogoleran di atas kamar mandi yang kebetulan pake langit-langit kaca. Keliatan bayangannya yang lagi netek induknya.

Dari empat ekor itu yang tersisa tinggal satu. Dan secara formal ga jadi kucing rumahan. Tetep liar, namun sesekali nongol ke rumah. Apalagi pas musim kurban ini. Deuhh… betah banget dia nongkrong di depan rumah.

Namanya Fredi, eh Predi. Mirip nama ayam kesayangannya Ucup bin Sanusi yang tetangga Bajuri itu. Fiddut, ponakan yang juga tetangga beda 5 rumah sempet nanya, kok namanya gaya banget. Sementara Kucing piaraannya, yang awalnya Kucing Liar juga, cuma dikasih nama si AWEL merujuk pada kebiasaannya yang berisik dan bawel.

"Itu karena bulunya Fidd. Lihat tuh, hitem polos banget. Kayak Kucing batere EVEREADY. Jadi panggilan imutnya Predi.." jelasku.

Fiddut nyengir.

Ternyata antara si Predi dan Awel ada hubungan kekeluargaan. Kakaknya Fiddut, Miadz yang bersikeras setelah melihat persamaan ciri yang terdapat di sebelah mata keduanya. Menurutnya, Predi pasti adik Awel, sebab induk Si Predi (yang belum dikasih nama) juga mempunyai ciri guratan kayak gagang kacamata yang memanjang dari ujung mata ke arah telinga, precis seperti yg terdpata pada si Awel. Hemmm, aku malas debat meski buatku semua kucing sama saja.

Meski (mungkin) bersaudara, nasib Awel dan Predi jauh berbeda. Sementara Awel mengalami kehidupan mewah menjadi kucing rumahan, Predi tetap dengan gaya premannya, yang suka menggeram memamerkan taring dan cakarnya jika didekati. Tapi dasar Kucing, geraman galaknya berubah lembut jika dilempari makanan. Meski begitu dideketi… ancang-ancang ngajak perang tetep keluar.

"Dikasih apa tuh?" Fiddut pernah melihat aku melemparkan potongan makanan yang langsung dilahap dengan rakus oleh Predi.

"Biskuit.." aku menjawab sambil terus melemparkan lagi dan disambut dengan gerak cepat pula oleh Predi.

"Idih, kasian banget…."

" Jangan salah, Predi juga makan kentang, tempe, chiki, sukro, kue semprit sisa lebaran dan macem-macem….." penyebutan jenis makanan yang dikonsumsi Predi seperti menyiratkan kalau kucing bukan carnivora. Itu yang membuat Fiddut terbelalak.

"What?" Fiddut antara prihatin dan takjub.

Tentu saja, dia tahunya si Awel yang sok manja, padahal asalnya kucing liar juga, tapi setelah mencicipi Whiskas, sekarang paling sial dia maunya makan lauk-pauk macem dencis, pindang ikan atau kepala ayam…

Ini yang namanya jalan hidup. Sama saja dengan manusia. Meski bersaudara, belum tentu setiap orang akan memiliki kehidupan yang sama. Siapa yang bisa menyangka kalau Awel yang tadinya kurus, kotor dan sangat bawel sekarang menjadi kucing sehat, manis kesayangan keluarga. Malahan dalam setahun sudah menjadi induk dari 6 ekor dalam dua kali melahirkan.

Semenjak jadi emak-emak itulah, tabiat Awel jadi lebih santun dan elegan. Sekarang pun Awel kayaknya lagi dalam masa subur. Mudah-mudahan ga dikawinin sama Predi. Amit-amit, incest…!

Karena bertetangga dengan Fiddut itulah, aku kembali agak sedikit gemar sama kucing lagi.

Selama belasan tahun tinggal di Bandung hubunganku sama felix domesticus ini ga akur. Hubungan benci dan sebel. Secara formal di rumah ga piara, tapi selalu ada saja kucing nongol dengan regular. Sebelnya itu kucing berisik, suka berburu tikus tapi ga bertanggung jawab memakannya, eek di sembarang pojokan, terus kalau beranak suka berulang ngebrojolin di dalam lemariku, mana siklus kehamilannya cepet lagi. Hiiii……

Padahal sewaktu masih di kampong aku punya dua ekor. Bersaudara dengan bulu nyaris seragam, kuning-putih. Kucing kampong biasa. Tapi meski secara kasat mata keduanya mirip, aku bisa membedakan yang mana DEWI dan yang mana CIPLUK.

Tidak seperti judul film dari kisah nyata orok yang dituker-tuker sama Nuraeni (Neno Warisman) …DEWI CIPLUK, SEMUA SAYANG KAMU, toh rasa sayangku ternyata terasa lebih buat Dewi thok. Hihihi, maaf kalau ga berlaku adil. Soalnya Dewi memang lebih nggemesin. Tidak seperti Cipluk yang keliatan males-malesan saja.

Sekarang ini rasanya aku melihat figur DEWI pada si AWEL…..


Posted at 11:50 am by riadi

mina
March 30, 2006   10:32 PM PST
 
about ngasi makan kucing dengan segala barang di luar takdirnya, kayaknya kita berdosa membuat kucing jadi omnivora ya :D kucingku makan segala, mulai dari ikan, nasi, roti, coklat, permen, kacang, eskrim, keju, kripik makaroni (favoritnya), kalo lagi sinting dia emping melinjo aja doyan.

my mom malah suka ngasi roti, kue, tulang ayam dan daging sisa buat belut. belutnya suka muncul2 keluar dari air, kalo orang liat pasti takut.

my sis bahkan sampe tahap ngasi cecak di kantornya dengan biskuit. suka ditungguin tuh sama cecaknya, sampe jadi endut gitu, mestinya kan makan nyamuk.

apa gak kacau coba rantai makanan? :D
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry