Di komplek perumahanku banyak kucing berseliweran. Kucing liar tentuya.
Setiap teritori pasti ada saja kucing beraneka warna. Satu-satunya yang
bisa mengumpulkan para kucing itu adalah tukang sayur. Tiap pagi mesti
serombongan kucing mengikuti keretanya. Sapa tahu dapet cipratan rejeki
sisa ikan atau serpihan tulang ayam yang dibeli ibu-ibu di sini.
Belakangan
intensitas keberadaan kucing itu makin menguat. Tiap malam pasti
terdengar suara meong yang jauh dari merdu. Serak-serak pecah. Mana
kenceng lagi. Mengganggu. Lebih mengganggu kalau mereka sampai
kejar-kejaran di genteng. Huh! Kadang aku siram kalau sudah kelewatan
dengan segayung air. Tapi pinternya, hewan itu biasanya sudah langsung
ngabur duluan begitu suara pintu terbuka. Jadi belum sempet disiram
mereka dah lari tentu saja sambil terus mengeluarkan suara jeleknya itu.
Rumah
yang aku tempati sekarang ini juga sebelumnya diokupasi oleh seekor
induk kucing berwarna kelabu putih dengan anak-anaknya yang empat ekor.
Mereka bersarang di langit-langit. Pertama kaget juga mendengar suara
gurubug-gurubug Kirain tikus besar berlarian. Ternyata anak-anak kucing
yang lagi gumincir, enak saja berkejaran. Dan kalau sudah kecapean,
keliatan mereka gogoleran di atas kamar mandi yang kebetulan pake
langit-langit kaca. Keliatan bayangannya yang lagi netek induknya.
Dari
empat ekor itu yang tersisa tinggal satu. Dan secara formal ga jadi
kucing rumahan. Tetep liar, namun sesekali nongol ke rumah. Apalagi pas
musim kurban ini. Deuhh… betah banget dia nongkrong di depan rumah.
Namanya
Fredi, eh Predi. Mirip nama ayam kesayangannya Ucup bin Sanusi yang
tetangga Bajuri itu. Fiddut, ponakan yang juga tetangga beda 5 rumah
sempet nanya, kok namanya gaya banget. Sementara Kucing piaraannya,
yang awalnya Kucing Liar juga, cuma dikasih nama si AWEL merujuk pada
kebiasaannya yang berisik dan bawel.
"Itu karena bulunya Fidd. Lihat tuh, hitem polos banget. Kayak Kucing batere EVEREADY. Jadi panggilan imutnya Predi.." jelasku.
Fiddut nyengir.
Ternyata
antara si Predi dan Awel ada hubungan kekeluargaan. Kakaknya Fiddut,
Miadz yang bersikeras setelah melihat persamaan ciri yang terdapat di
sebelah mata keduanya. Menurutnya, Predi pasti adik Awel, sebab induk
Si Predi (yang belum dikasih nama) juga mempunyai ciri guratan kayak
gagang kacamata yang memanjang dari ujung mata ke arah telinga, precis
seperti yg terdpata pada si Awel. Hemmm, aku malas debat meski buatku
semua kucing sama saja.
Meski (mungkin) bersaudara, nasib Awel
dan Predi jauh berbeda. Sementara Awel mengalami kehidupan mewah
menjadi kucing rumahan, Predi tetap dengan gaya premannya, yang suka
menggeram memamerkan taring dan cakarnya jika didekati. Tapi dasar
Kucing, geraman galaknya berubah lembut jika dilempari makanan. Meski
begitu dideketi… ancang-ancang ngajak perang tetep keluar.
"Dikasih apa tuh?" Fiddut pernah melihat aku melemparkan potongan makanan yang langsung dilahap dengan rakus oleh Predi.
"Biskuit.." aku menjawab sambil terus melemparkan lagi dan disambut dengan gerak cepat pula oleh Predi.
"Idih, kasian banget…."
"
Jangan salah, Predi juga makan kentang, tempe, chiki, sukro, kue
semprit sisa lebaran dan macem-macem….." penyebutan jenis makanan yang
dikonsumsi Predi seperti menyiratkan kalau kucing bukan carnivora. Itu
yang membuat Fiddut terbelalak.
"What?" Fiddut antara prihatin dan takjub.
Tentu
saja, dia tahunya si Awel yang sok manja, padahal asalnya kucing liar
juga, tapi setelah mencicipi Whiskas, sekarang paling sial dia maunya
makan lauk-pauk macem dencis, pindang ikan atau kepala ayam…
Ini
yang namanya jalan hidup. Sama saja dengan manusia. Meski bersaudara,
belum tentu setiap orang akan memiliki kehidupan yang sama. Siapa yang
bisa menyangka kalau Awel yang tadinya kurus, kotor dan sangat bawel
sekarang menjadi kucing sehat, manis kesayangan keluarga. Malahan dalam
setahun sudah menjadi induk dari 6 ekor dalam dua kali melahirkan.
Semenjak jadi emak-emak itulah, tabiat Awel jadi lebih santun dan
elegan. Sekarang pun Awel kayaknya lagi dalam masa subur. Mudah-mudahan
ga dikawinin sama Predi. Amit-amit, incest…!
Karena bertetangga dengan Fiddut itulah, aku kembali agak sedikit gemar sama kucing lagi.
Selama belasan tahun tinggal di Bandung hubunganku sama felix domesticus
ini ga akur. Hubungan benci dan sebel. Secara formal di rumah ga piara,
tapi selalu ada saja kucing nongol dengan regular. Sebelnya itu kucing
berisik, suka berburu tikus tapi ga bertanggung jawab memakannya, eek
di sembarang pojokan, terus kalau beranak suka berulang ngebrojolin di
dalam lemariku, mana siklus kehamilannya cepet lagi. Hiiii……
Padahal
sewaktu masih di kampong aku punya dua ekor. Bersaudara dengan bulu
nyaris seragam, kuning-putih. Kucing kampong biasa. Tapi meski secara
kasat mata keduanya mirip, aku bisa membedakan yang mana DEWI dan yang
mana CIPLUK.
Tidak seperti judul film dari kisah nyata orok yang
dituker-tuker sama Nuraeni (Neno Warisman) …DEWI CIPLUK, SEMUA SAYANG
KAMU, toh rasa sayangku ternyata terasa lebih buat Dewi thok. Hihihi,
maaf kalau ga berlaku adil. Soalnya Dewi memang lebih nggemesin. Tidak
seperti Cipluk yang keliatan males-malesan saja.
Sekarang ini rasanya aku melihat figur DEWI pada si AWEL…..
Posted at 11:50 am by riadi
 |  |  |
mina March 30, 2006 10:32 PM PST
about ngasi makan kucing dengan segala barang di luar takdirnya, kayaknya kita berdosa membuat kucing jadi omnivora ya :D kucingku makan segala, mulai dari ikan, nasi, roti, coklat, permen, kacang, eskrim, keju, kripik makaroni (favoritnya), kalo lagi sinting dia emping melinjo aja doyan.
my mom malah suka ngasi roti, kue, tulang ayam dan daging sisa buat belut. belutnya suka muncul2 keluar dari air, kalo orang liat pasti takut.
my sis bahkan sampe tahap ngasi cecak di kantornya dengan biskuit. suka ditungguin tuh sama cecaknya, sampe jadi endut gitu, mestinya kan makan nyamuk.
apa gak kacau coba rantai makanan? :D |
 |