Insomania itu datang lagi. Tapi yang ini memang salahku sendiri (dan
sedikit pengaruh obat yang diminum). Habis maghrib rasanya ngantuk
banget, dan tidur lumayan pulas. Sambil selimutan pula. Dan bangun
lumayan cepat. Hanya satu jam. Terhuyung diri ini menyangka bahwa malam
beranjak tua, sementara aku belum isya. Tapi begitu lihat jam di
dinding…waaaaaa… kok baru jam 8 saja.
Memang gak baik tidur sore-sore. Ga banyak yang dilakukan menuju malam.
Kecuali berusaha untuk mengais mimpi menjemput hari. Apa daya mata ini
susah diajak
tibra. Solusi baca sambil tiduran tidak lagi mempan. Hemmmm
just crossed in my mind… what if I turn the tv on. And switch the
channel to one specific tv broadcast which often aire Indonesian Movie
on midnite? Apa lagi kalau bukan LATIVI. Layar
Tancepnya yang berisikan film-film dodol 90-an sudah masuk fase re-run
berkali-kali. Tapi mana tahu keberuntungan menjemput seperti ketika
tanpa sengaja aku melihat film
GAIRAH PERTAMA Enni Beatrice
yang sangat 80-an itu. Dan Lativi memberikan keberuntungan itu. TV
menyala dan memperlihatkan wajah Rudy Salam yang masiiih mudaaaa dan
ganteng….. lalu ada wajah tante-tante udud, yup itu RUTH PELUPESSY yang
pada tahun 70-an sebagai Cori deBusse pernah mati karena kolera dalam
film SALAH ASOEHAN.
Hemm paduan Rudy dan Tante Ruth itu
serasa hapal di kepala. Dan ternyata ada satu perempuan lagi yang
terikat, dan jadi tokoh utama, dan kemudian
diperkokos
sama Om Rudy, dan para begundalnya, dan kemudian perempuan itu hamil
padahal suaminya lagi pergi berbulan-bulan dines apa gitu di luar
negeri, bikin perempuan itu cemas takut dan akhirnya memilih mati meski
sama emban Marlia Hardi sudah dibujuk bahwa Barry Prima yang suaminya
itu pasti akan mengerti. (Pssst, Marlia HArdi yang begitu bijak dalam
setiap perannya ternyata meninggal menggantung diri karena terlibat
masalah arisan call )
Wait..wait.. Barry Prima? Tak salah
lagi perempuan mati itu pasti berikutnya akan menjadi… apalagi kalau
bukan SUNDEL BOLONG. Hehehe nice job SUZANNA. Dan seperti biasa dalam
setiap film horrornya akan selalu ada duo dinamik Dorman Borisman dan
Haji Bokir. Kali ini kedua orang kocak ini menjadi TUKANG BECAK.
Deuhh.. Dorman Borisman sekih banget kostumnya. Kaos ketat dan hot pant
merah minim ketat dengan sepatu kets dan kaos kaki panjang. Bak Sarah
Azahari saja … atau jangan-jangan Sarah terinspirasi oleh Bang Dorman?
Oke .. ternyata saya sudah liat film itu berpuluh-puluh kali
(hiperbolis). So dengan merasa tidak bersalah, saya pencet-pencet
remote, mencoba mencari tontonan yang lebih refreshing daripada sekedar
sundel bolong. Hmmm, sebagian stasiun sudah tutup, sebagian lagi main
bola (huekkk), sebagian lagi film barat kelas U (alias udik), dan TV7
akhirnya menjadi tempat persinggahan terakhir.
Yo Oloh,
dalam waktu bersamaan diputer 2 film 80-an. Sudah jelas aku memilih
yang TV7 sebab termasuk jarang-jarang diputer di TV, dan secara masih
keitung aktuil bila dihubungkan dengan
blog 80an yang kondang itu. Postingan terakhir di lapanpuluhan berkisah tentang
Kejarlah Daku Kau Kutangkap.
Film yang aku lihat, masih satu produksi punyaan ibu Budiati Abiyoga
yaitu PT Prasidi Teta Film. Ini rumah produksi yang membikin genre
situasi komedi laku dan populer di lapanpuluhan. Skenarionya sama-sama
bikinan Asrul Sani. Dan salah satu pemerannya ada bang Markum itu yang
lagi diperbincangkan di blog. Ikranegara !
BINTANG KEJORA,
kalau tidak salah film komedi sitcom berikutnya setelah KDKJ yang
pernah saya tonton. Beda sama KDKJ yang ngepop, BK lebih sedikit bikin
kening berkerut. Keningku terutama. Dulu masih ga paham dan ga ngerti,
apa maksud film ini meski tetep saja merasa terhibur dengan komedinya.
Lalu aku pun dibingungkan juga oleh setting waktu dan lokasi yang
keliatannya entah berantah itu. Terutama dari pemilihan kostum,
kendaraan bermotor, rumah, dan penduduk sekitar.
(Kebingungan yang sama juga saya alami setelah nonton Banyu Biru
bersama Mas Sigit setahun yang lalu. Tapi yang ini sih kayak finding
neverland tapi ga ktemu-ktemu. Coz ga ktemu lucunya dan
sempet-sempetnya ketiduran di dalam bioskop pula.)
Kembali
ke soal BINTANG KEDJORA… Film ini berkisah tentang keluarga PaK Rusdi
(drs. Poernomo, aka Mang Udel, aka Pak Broto dalam Losmen), dan ketiga
anaknya Dahlia (Rini S. Bonbon, eh Bono), Subrat (Ikranegara) dan Sopan
(Roni M. Toha) di sebuah desa ketika musim kemarau membuat keluarga itu
mudah uring-uringan dan gampang jadi pemarah.
Karakter
lainnya adalah seorang encim Neti Herawati (ini nama pemerannya) dengan
cucu perempuannya yang masih cilik, (Sui Ha) dan seorang engkong Paul
Poli'I (ini juga nama aslinya) yang punya anak bernama Ling Ling, alias
Kepiting, dan bercita-cita jadi sri panggung keliling, dan ditaksir
sama si Sopan.
Pak Rusdi was-was karena Dahlia belum juga
dapat jodoh. Ga ada lelaki yang mau sama dia karena penampilan dan
sikap dia yang cenderung kasar dan kayak lelaki. Tapi Subrat
seneng-seneng saja kakaknya ga dandan kayak si LingLing, sebab berarti
ga ada pengeluaran buat bedak atau gincu. Sementara Sopan sama
was-wasnya dengan pak Rusdi tapi buat alasan yang beda. Dia kebelet
kawin sama Ling Ling tapi bapaknya ga ngijinin sebelum kak Dahlia
bersuami.
Adegan dan dialognya asik, seru dan tanpa slapstick.
Tanpa sepengetahuan Dahlia, Pak Rusdi menyuruh anak-anaknya mengundang
Mas Kendro (Ami Priyono), duda setengah baya yang penyuluh pertanian
(cie.. penyuluhan ni yee.. serasa banget 80-annya!). Hihihi, dialog
waktu membicarakannya lucu. Pak Rusdi menyuruh mengundang makan, tapi
kalau ngundang makan, berarti makanannya harus istimewa. Ini yang
ditentang Sobrat yang sangat
strict dengan pengeluarannya. Akhirnya jalan tengah dari Sobrat adalah, mengundang mas Kendro ke rumah untuk
bicara-bicara
Acara
mengundang den Kendro ternyata gak sukses. Si Mas Penyuluh itu sadar
dia mau diumpankan sama perawan tua yang gak laku. Dia tolak
mentah-mentah malahan sempet rada berantem sama Sopan yang merasa si
Mas kendro berlaku tidak sopan. Mata si Sopan pun keliatan
bengep.
Dahlia yang tahu bahwa dirinya mau dijodohin marah dan tersinggung.
Bukan karena Mas Kendro duda, atau setengan baya. Tapi dia bilang
pembantu2nya saja pada ga betah karena suka dicuekin. Ga pernah disuruh
ini itu, ga pernah ditanya ini itu, pokoknya ga ada komunikasi. Pak
Penyuluh sukanya ngobrol sama tanaman doang. Jadi kebayang dong
terhinanya. Apalagi setelah tahu si Sopan matanya biru-biru.
Pada saat rame-rame inilah muncul tokoh karakter yang menjadi judul film ini, Bintang Kejora (El Manik).
Bintang Kejora ternyata pedagang keliling yang spesialis menjual hujan
(nah lho). Promosinya, dia bisa menurunkan hujan dalam seminggu. Di
tengah hiruk pikuk keluarga yang berantem itu dia muncul dengan
kepribadian yang menarik, dan kemampuan menjualnya yang luar biasa.
Sobrat yang tahu bahwa orang itu pun tak lebih sekedar penipu dibuat
tak berdaya karena pak Rusdi ternyata memutuskan untuk meneken
perjanjian sama si Bintang untuk menurunkan hujan. Nilainya untuk masa
itu, di kampong pula lumayan besar. 50 rebu perak, (sedangkan harga
karcis bioskop masih 250 perak dan sebotol sirup 150 perak).
Isi kontrak:
1. DP Rp. 25 ribu , sisanya dibayarkan seminggu kemudian pada saat hujan turun
2. Anak-anak pak Rusdi harus turut aktif dan melakukan kewajiban-kewajiban sbb:
a. Dahlia harus menanam bunga di dalam rumah
b. Sobrat membikin garis putih lurus sepanjang 200 m di halaman dan harus
membuat sapi kesayangannya berjalan mundur
c. Sopan harus membunyikan gendang, sebagai bagian dari ritual minta hujan
Sementara pak Rusdi dan si Bintang malah bersantai-santai sambil ngupi-ngupi dan main catur Jawa.
Dulu aku merasa tokoh si Bintang itu kurang ajar banget. Datang tak
diundang, ehh malah memporakporandakan tatanan yang sudah ada.
Sementara Pak Rusdi juga bego saja mau dikadalin sama Bintang, dan
berseberangan dengan anak-anaknya.
Belakangan barulah
ketahuan bahwa begitu cara pak Rusdi meningkatkan kualiteit
keluarganya. Dia sebenarnya tahu si BIntang itu ga bisa nurunin hujan,
tapi keberadaan bintang dengan syarat-syarat konyolnya itu dilihatnya
sebagai cara untuk mengganti pertengkaran dan menggantinya dengan
senyuman.Yup, Bintang membuat rumah itu ceriah, dengan musik, lagu dan
bunga-bunga.
Prasyarat yang dia bikin buat anak-anak pak
Rusdi adalah symbol. Sobrat dibuatnya mau berdendang, dengan hati
riang, karena konon sapi mau ditarik buntunya biar jalan mundur kalau
dinyanyiin dulu. Terus si Sopan, membunyikan gendangnya dengan hati
senang dan irama dangdud, tidak lagi dengan perasaan seperti sebuah
kewajiban. Sementara Dahlia? Dia menjadi bunga rumah itu, dengan
tumbuhnya self-esteem bahwa dirinya cantik seperti yang dibilang si
Kejora. Dan benih-benih cinta pun tumbuh lah yang disambut dengan suka
cita oleh semua orang kecuali Sobrat.
Harusnya film itu selesai disini. Tapi Asrul Sani punya ending yang yahud…
Sobrat tambah gondok, karena pengeluaran lipat banyak. Dahlia jadi
doyan dandan, dan minta anggaran kebutuhannya ditambah satu untuk
perawatan salon. Hari itu juga dia cabut ke kota mau dandan
habis-habisan.
Sobrat pun berencana mengadukan Bintang ke
pak lurah dengan tuduhan tidak punya ijin usaha. Juga mengadukan ke
polisi dengan dakwaan wan prestasi kalau hujan yang dijanjikan seminggu
itu tidak turun, Dia pun kembali menghubungi Mas Kendro agar mau datang
ke rumah berkenalan dengan kakaknya. Sambutan Mas Kendro berubah
drastis. Sobrat ga tahu bahwa sebelum dia datang, Mas Kendro melihat
Dahlia yang baru turun dari bis keliatan ayu tenan setelah dangdan
habis-habisan di salon.
Bintang bukannya ga tahu dia bakal
diserang Sobrat. Sebelum hari Sabtu dia sudah menghubungi pak Lurah
yang berseragam putih dengan epolet (alias
cakcak moyan)
birokrat, dan minta surat ijin usaha dari beliau. Pak Lurah keberatan,
karena belum ada peraturan yang dibikin buat penjual hujan. Paniklah
doi. Dan dia pun kabur.
Hari Sabtu adalah puncak menuju
ending film ini. Engkong Paul, bapaknya LingLing datang dan marah-marah
nuduh Sopan bikin anaknya kabur ke Jakarta pengen jadi artis. Neneknya
Sui Ha membela dan mereka berantem pake bahasa Cina. Pak Rusdi yang
ngedengerin santai saja ngomentarin agar mereka kawin. Sobrat kemudian
datang dan nyari-nyari surat perjanjian yang mau digunakan buat
menuntut BIntang ke polisi. Ternyata pak Rusdi sudahmerobek-robek surat
perjanjian itu. Sobrat ngedumel dan bilang dia rugi 25 rebu buat DP.
Tapi Dahlia yang sekarang cantik terus dan ga jutek lagi mengganti duit
yang 25 rebu itu dan langsung dimasukin ke kantong baju.
Lagi seru-serunya ngumpul itulah…. Hujan turuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun…..!
Semua senang, semua riang. Si engkong dan encim yang suka berantem itu
menari-menari sambil bernyanyi di bawah hujan. Dan kayaknya jadi deh
bakal kawin.
Bintang kemudian muncul juga dengan motor
gedenya, dan berteriak…" Dahliaaaaa……" yang disambut dengan Dahlia yang
berlari menerobos hujan dan langsung menclok di belakang. Motor pun
melaju di tengah hujan sambil diiringi anak-anak yang berlari dan
berteriak-teriak.
Oke, harusnya di sini tamat… tapi ternyata belum.
Mas Kendro yang diundang datang, muncul gagah dengan baju penganten
tradisional lengkap dengan blangkon sambil membawa pot tanaman yang
gede. Basah kuyup dia waktu bertanya", Ini ditaroh dimana?"
Si Sopan yang masih musuhan ketawa ngakak," Sudah telat.. rasain!"
Tinggallah Mas Kendro berdiri terpaku di tengah hujan masih memegang pot. Sesaat kemudian muncul tulisan :
SEKIAN
Film ini meski dah 20 tahun tapi isinya masih relevan.
Salah satunya adalah waktu adegan Sopan dan Sobrat membicarakan Dahlia.
Sopan pingin Dahlia cepet dapat suami, karena si LingLing bilang kalau
kelamaan ga dilamar juga, dia mau cabut ke Jakarta jadi bintang film.
Dan dia ga janji bakal terus setia. Komentar Sobrat,
" Mana ada bintang film yang setia…."
Heheheh
Where Are They ==
cast of characterz : 1.
El Manik : masih tetep wara wiri di sinetron
2.
Rini S. Bono : putri aktor almarhum S. Bono dan adek aktres Debby Chintya Dewi
ini ga pernah muncul lagi semenjak jadi nyonya Ricardo Gelael. Dan Ahmad Albar
pun tetep menduda. Darah aktingnya nurun sama Fachri, anaknya.
3.
Ikranegara: di DC. Istrinya kan emang bule,
4.
Mang Udel : sudah almarhum. kangen sama ukulelenya...
5.
Netty Herawati : sudah almarhum juga dari tahun 80an. Sering berpasangan
suami istri dengan suamni benerannya (
H. Darussalam). Pak Haji itu juga sudah
meninggal dan pernah dapet piala Citra aktor pembantu dalam film Kodrat,
arahan Slamet Rahardjo. Psstt.. film Kodrat ga kongruen sama sinetronnya. So
jangan dibandingkan.
6.
Ami Priyono : aktor yang sutradara juga. Sudah meninggal. Kalau di sinetron dia
jadi babenya si Sarah dalam si Doel Anak Sekolahan.
7.
Paul Poli'i : aselinya pelawak Srimulat. Sudah meninggal juga. Ciri khasnya
adalah bila menyebutkan namanya… phooooll.., desahan bercampur abab.
Reaksi lawan main, pasti menutup hidung atau muka karena ada muncratan
8.
Roni M. Thoha : dulunya ikutan Teater Koma juga. Tapi dia lebih terkenal mulai
dekade 90 ketika jadi ikon buat Matahari Department Store, sebagai Jhon
Banting,. Lalu semenjak krismon, dia berubah jadi ikon sabun deterjen DAIA.
Dandanannya sih tetep mirip. Badut2an dengan warna2 meriah.