Riadi

Riadi


seseorang yang terlalu diokupasi oleh masa silam
delapanpuluhan
dan agak terlalu menikmatinya:D
   

<< February 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


 
Wednesday, November 15, 2006
CATS STORY. continued.
Sudah beberapa bulan ini di rumah Fidut terdapat sembilan ekor kucing. Generasi pertamanya, tentu saja si Awel, yang total jendral sudah melahirkan empat kali. Sayang dari kelahiran yang pertama yang berjumlah tiga ekor, tidak satupun bertahan. Tahun kemarin dia melahirkan lagi tiga ekor kucing, dua di antaranya tumbuh kembang sejahtera yaitu si Kooning dan si Kaboo. Kelahiran ketiga menyisakan si Kunyil yang hampir sama sebangun dari bentuk muka, bentuk tubuh dan warna bulunya. Si Kunyil sekarang lagi centil-centilnya di masa puber dalam kehidupan seekor kucing. Begitu fresh dan tebar pesona. Beda dengan penampilan induknya setelah melahirkan untuk ke empat kalinya. Awel sekarang berubah menjadi tua dan tirus. Namun tetap elegan dan bawel. Anaknya bertambah tiga dan lagi lincah dan jorok-joroknya.

Tidak lama setelah itu, si Kooning pun melahirkan dua ekor anak yang semuanya berbulu kuning namun ga berbuntut. Wah—kecurigaan langsung menuju pada kucing jantan liar bermata sipit yang biasa dipanggil si Kecret, merujuk kebiasaannya yang kalau nongol ke rumah buat ngegodain kucing betina suka sambil cretttt…cretttt meninggalkan gumpalan eek. Hiiiiii! Bukan kebetulan si Kecret juga memiliki bulu yang kuning dan berbuntut pendek!

Dari kesembilan ekor kucing di rumah tetangga ini, hanya tiga yang dengan kesadaran sendiri sempat berkunjung ke rumahku. Tidak begitu jauh memang. Hanya beda 5 rumah dan satu belokan.

Awalnya adalah si Kooning dan si Kaboo sewaktu menginjak masa-masa remajanya. Pada saat itu mereka mengikuti Epicen, kakaknya Fidut yang disuruh mengantarkan logistik buat Om-nya yang mustahik. Selanjutnya hanya Kaboo yang suka rutin datang sendiri. Kadang nongol dari pintu depan, namun acap pula nyebrang dari atap ke atap, lalu turun melalui tangga aborsi dari tempat jemuran.

Kooning memang tidak pernah datang lagi, apalagi kemudian doi hamil dan melahirkan. Perannya sudah jadi ibu-ibu. Nah, si Kaboo sebagai kucing jantan, bebas-bebas saja dia keluyuran. Mungkin dia ngerasa sumpek juga di rumah sana, mesti rebutan perhatian dan makanan sama emak, adik-adik dan keponakan. Lagian dengan tongkrongannya yang gagah dan besuar, malu dong mesti ngucrug sambil nyikut kerabatnya yang kecil mungil itu. Hehehe.

Awal mula kerutinan datang ke rumah, kami tidak menyambut Kaboo dengan suka cita. Kebiasaannya yang suka mengintili, sambil ribut mengeong dan menggesel-geselkan diri ke kaki sungguh amat mengganggu. Terus kalau tidak diperhatikan karena saya lagi main komputer, dia suka loncat ke atas meja dengan semena-mena dan dengan ribut menginjak-injak keyboard. Tidak sopan. Dimarahin bukannya instropeksi diri, malah ganti loncat ke meja makan, dan ngoprek-ngoprek makanan . Kalau beruntung dia suka melahap apa yang tertinggal di sana. Kue Sarang Semut yang sengaja dibikin buat menyambut lebaran pun tak luput dia santap. Huh, tahu makanan enak dan bergizi juga itu kucing.

“ Kaboo ga senakal itu kok..” Epicen membela yang diamini Fidut ketika saya menyampaikan keluhan atas kurangnya etika pada kucing mereka itu.

“ Lihat tuh dia begitu anggun bersahaja ..” Fidut menambahkan yang tentu saja membuat saya geram.

Dasar kucing berkepribadian ganda. Di rumahku dia ribut tak bisa diam, sementara di depan majikannya tampak alim berwibawa. Malah suka mengemong adik-adik dan keponakannya. Main kejar-kejaran, gulat-gulatan atau sekedar jilat-jilatan. Dan tidak pernah itu yang namanya mengintili kaki orang untuk menggeselkan kepalanya.

“ Makanya dikasih makan dong, Om.…”

“ Eh ga bisa. Dia boleh main ke rumah, tapi kalau urusan maem sama eek mesti pulang dulu. Begitu perjanjiannya..,” aku menukas.

“ Perjanjian sama siapa?” kedua ponakanku itu saling memandang.

“ Ya sama si Kaboo dong…”

“ Yeee…emang dia ngerti”.

Sutralah…


Sampai sekarang Kaboo masih rutin bertamu. Dan kami tetap tidak menyediakan secara khusus makanan buatnya. Syukurlah sejauh ini Kaboo menghormati perjanjian untuk tidak minta makan atau eek sembarangan. Satu kali pernah dia terkunci di dalam rumah seharian. Kaget pas masuk rumah, di kursi tamu Kaboo masih melingker . Langsung inspeksi segala penjuru sambil mengendus-endus, alhamdulillah tidak ada bau mencurigakan. Sekarang malah dia lebih menjaga tingkah laku. Sudah tidak berkepribadian ganda lagi. Aselinya yang anggun berwibawa muncul, sampai-sampai keponakanku yang masih TK mengomentarinya ketika datang bertandang berkomentar ,

” Kucing manis……”


Dan Kaboo memang menjadi manis.


Posted at 11:48 am by riadi
Comment (1)  

 
Tuesday, April 11, 2006
BINTANG KEDJORA.. bukan masalah Papua!
Insomania itu datang lagi. Tapi yang ini memang salahku sendiri (dan sedikit pengaruh obat yang diminum). Habis maghrib rasanya ngantuk banget, dan tidur lumayan pulas. Sambil selimutan pula. Dan bangun lumayan cepat. Hanya satu jam. Terhuyung diri ini menyangka bahwa malam beranjak tua, sementara aku belum isya. Tapi begitu lihat jam di dinding…waaaaaa… kok baru jam 8 saja.

Memang gak baik tidur sore-sore. Ga banyak yang dilakukan menuju malam. Kecuali berusaha untuk mengais mimpi menjemput hari. Apa daya mata ini susah diajak tibra. Solusi baca sambil tiduran tidak lagi mempan. Hemmmm just crossed in my mind… what if I turn the tv on. And switch the channel to one specific tv broadcast which often aire Indonesian Movie on midnite?

Apa lagi kalau bukan LATIVI. Layar Tancepnya yang berisikan film-film dodol 90-an sudah masuk fase re-run berkali-kali. Tapi mana tahu keberuntungan menjemput seperti ketika tanpa sengaja aku melihat film GAIRAH PERTAMA Enni Beatrice yang sangat 80-an itu. Dan Lativi memberikan keberuntungan itu. TV menyala dan memperlihatkan wajah Rudy Salam yang masiiih mudaaaa dan ganteng….. lalu ada wajah tante-tante udud, yup itu RUTH PELUPESSY yang pada tahun 70-an sebagai Cori deBusse pernah mati karena kolera dalam film SALAH ASOEHAN.

Hemm paduan Rudy dan Tante Ruth itu serasa hapal di kepala. Dan ternyata ada satu perempuan lagi yang terikat, dan jadi tokoh utama, dan kemudian diperkokos sama Om Rudy, dan para begundalnya, dan kemudian perempuan itu hamil padahal suaminya lagi pergi berbulan-bulan dines apa gitu di luar negeri, bikin perempuan itu cemas takut dan akhirnya memilih mati meski sama emban Marlia Hardi sudah dibujuk bahwa Barry Prima yang suaminya itu pasti akan mengerti. (Pssst, Marlia HArdi yang begitu bijak dalam setiap perannya ternyata meninggal menggantung diri karena terlibat masalah arisan call )

Wait..wait.. Barry Prima? Tak salah lagi perempuan mati itu pasti berikutnya akan menjadi… apalagi kalau bukan SUNDEL BOLONG. Hehehe nice job SUZANNA. Dan seperti biasa dalam setiap film horrornya akan selalu ada duo dinamik Dorman Borisman dan Haji Bokir. Kali ini kedua orang kocak ini menjadi TUKANG BECAK. Deuhh.. Dorman Borisman sekih banget kostumnya. Kaos ketat dan hot pant merah minim ketat dengan sepatu kets dan kaos kaki panjang. Bak Sarah Azahari saja … atau jangan-jangan Sarah terinspirasi oleh Bang Dorman?

 Oke .. ternyata saya sudah liat film itu berpuluh-puluh kali (hiperbolis). So dengan merasa tidak bersalah, saya pencet-pencet remote, mencoba mencari tontonan yang lebih refreshing daripada sekedar sundel bolong. Hmmm, sebagian stasiun sudah tutup, sebagian lagi main bola (huekkk), sebagian lagi film barat kelas U (alias udik), dan TV7 akhirnya menjadi tempat persinggahan terakhir.

Yo Oloh, dalam waktu bersamaan diputer 2 film 80-an. Sudah jelas aku memilih yang TV7 sebab termasuk jarang-jarang diputer di TV, dan secara masih keitung aktuil bila dihubungkan dengan blog 80an yang kondang itu. Postingan terakhir di lapanpuluhan berkisah tentang Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

Film yang aku lihat, masih satu produksi punyaan ibu Budiati Abiyoga yaitu PT Prasidi Teta Film. Ini rumah produksi yang membikin genre situasi komedi laku dan populer di lapanpuluhan. Skenarionya sama-sama bikinan Asrul Sani. Dan salah satu pemerannya ada bang Markum itu yang lagi diperbincangkan di blog. Ikranegara !

BINTANG KEJORA, kalau tidak salah film komedi sitcom berikutnya setelah KDKJ yang pernah saya tonton. Beda sama KDKJ yang ngepop, BK lebih sedikit bikin kening berkerut. Keningku terutama. Dulu masih ga paham dan ga ngerti, apa maksud film ini meski tetep saja merasa terhibur dengan komedinya. Lalu aku pun dibingungkan juga oleh setting waktu dan lokasi yang keliatannya entah berantah itu. Terutama dari pemilihan kostum, kendaraan bermotor, rumah, dan penduduk sekitar.

(Kebingungan yang sama juga saya alami setelah nonton Banyu Biru bersama Mas Sigit setahun yang lalu. Tapi yang ini sih kayak finding neverland tapi ga ktemu-ktemu. Coz ga ktemu lucunya dan sempet-sempetnya ketiduran di dalam bioskop pula.)

Kembali ke soal BINTANG KEDJORA… Film ini berkisah tentang keluarga PaK Rusdi (drs. Poernomo, aka Mang Udel, aka Pak Broto dalam Losmen), dan ketiga anaknya Dahlia (Rini S. Bonbon, eh Bono), Subrat (Ikranegara) dan Sopan (Roni M. Toha) di sebuah desa ketika musim kemarau membuat keluarga itu mudah uring-uringan dan gampang jadi pemarah.

Karakter lainnya adalah seorang encim Neti Herawati (ini nama pemerannya) dengan cucu perempuannya yang masih cilik, (Sui Ha) dan seorang engkong Paul Poli'I (ini juga nama aslinya) yang punya anak bernama Ling Ling, alias Kepiting, dan bercita-cita jadi sri panggung keliling, dan ditaksir sama si Sopan.

Pak Rusdi was-was karena Dahlia belum juga dapat jodoh. Ga ada lelaki yang mau sama dia karena penampilan dan sikap dia yang cenderung kasar dan kayak lelaki. Tapi Subrat seneng-seneng saja kakaknya ga dandan kayak si LingLing, sebab berarti ga ada pengeluaran buat bedak atau gincu. Sementara Sopan sama was-wasnya dengan pak Rusdi tapi buat alasan yang beda. Dia kebelet kawin sama Ling Ling tapi bapaknya ga ngijinin sebelum kak Dahlia bersuami.

Adegan dan dialognya asik, seru dan tanpa slapstick.

Tanpa sepengetahuan Dahlia, Pak Rusdi menyuruh anak-anaknya mengundang Mas Kendro (Ami Priyono), duda setengah baya yang penyuluh pertanian (cie.. penyuluhan ni yee.. serasa banget 80-annya!). Hihihi, dialog waktu membicarakannya lucu. Pak Rusdi menyuruh mengundang makan, tapi kalau ngundang makan, berarti makanannya harus istimewa. Ini yang ditentang Sobrat yang sangat strict dengan pengeluarannya. Akhirnya jalan tengah dari Sobrat adalah, mengundang mas Kendro ke rumah untuk bicara-bicara

 Acara mengundang den Kendro ternyata gak sukses. Si Mas Penyuluh itu sadar dia mau diumpankan sama perawan tua yang gak laku. Dia tolak mentah-mentah malahan sempet rada berantem sama Sopan yang merasa si Mas kendro berlaku tidak sopan. Mata si Sopan pun keliatan bengep.

Dahlia yang tahu bahwa dirinya mau dijodohin marah dan tersinggung. Bukan karena Mas Kendro duda, atau setengan baya. Tapi dia bilang pembantu2nya saja pada ga betah karena suka dicuekin. Ga pernah disuruh ini itu, ga pernah ditanya ini itu, pokoknya ga ada komunikasi. Pak Penyuluh sukanya ngobrol sama tanaman doang. Jadi kebayang dong terhinanya. Apalagi setelah tahu si Sopan matanya biru-biru.

Pada saat rame-rame inilah muncul tokoh karakter yang menjadi judul film ini, Bintang Kejora (El Manik).

Bintang Kejora ternyata pedagang keliling yang spesialis menjual hujan (nah lho). Promosinya, dia bisa menurunkan hujan dalam seminggu. Di tengah hiruk pikuk keluarga yang berantem itu dia muncul dengan kepribadian yang menarik, dan kemampuan menjualnya yang luar biasa. Sobrat yang tahu bahwa orang itu pun tak lebih sekedar penipu dibuat tak berdaya karena pak Rusdi ternyata memutuskan untuk meneken perjanjian sama si Bintang untuk menurunkan hujan. Nilainya untuk masa itu, di kampong pula lumayan besar. 50 rebu perak, (sedangkan harga karcis bioskop masih 250 perak dan sebotol sirup 150 perak).

 Isi kontrak:
1. DP Rp. 25 ribu , sisanya dibayarkan seminggu kemudian pada saat hujan turun
2. Anak-anak pak Rusdi harus turut aktif dan melakukan kewajiban-kewajiban sbb:
     a. Dahlia harus menanam bunga di dalam rumah
     b. Sobrat membikin garis putih lurus sepanjang 200 m di halaman dan harus
         membuat sapi kesayangannya berjalan mundur
     c. Sopan harus membunyikan gendang, sebagai bagian dari ritual minta hujan

Sementara pak Rusdi dan si Bintang malah bersantai-santai sambil ngupi-ngupi dan main catur Jawa.

Dulu aku merasa tokoh si Bintang itu kurang ajar banget. Datang tak diundang, ehh malah memporakporandakan tatanan yang sudah ada. Sementara Pak Rusdi juga bego saja mau dikadalin sama Bintang, dan berseberangan dengan anak-anaknya.

Belakangan barulah ketahuan bahwa begitu cara pak Rusdi meningkatkan kualiteit keluarganya. Dia sebenarnya tahu si BIntang itu ga bisa nurunin hujan, tapi keberadaan bintang dengan syarat-syarat konyolnya itu dilihatnya sebagai cara untuk mengganti pertengkaran dan menggantinya dengan senyuman.Yup, Bintang membuat rumah itu ceriah, dengan musik, lagu dan bunga-bunga.

Prasyarat yang dia bikin buat anak-anak pak Rusdi adalah symbol. Sobrat dibuatnya mau berdendang, dengan hati riang, karena konon sapi mau ditarik buntunya biar jalan mundur kalau dinyanyiin dulu. Terus si Sopan, membunyikan gendangnya dengan hati senang dan irama dangdud, tidak lagi dengan perasaan seperti sebuah kewajiban. Sementara Dahlia? Dia menjadi bunga rumah itu, dengan tumbuhnya self-esteem bahwa dirinya cantik seperti yang dibilang si Kejora. Dan benih-benih cinta pun tumbuh lah yang disambut dengan suka cita oleh semua orang kecuali Sobrat.

 Harusnya film itu selesai disini. Tapi Asrul Sani punya ending yang yahud…

Sobrat tambah gondok, karena pengeluaran lipat banyak. Dahlia jadi doyan dandan, dan minta anggaran kebutuhannya ditambah satu untuk perawatan salon. Hari itu juga dia cabut ke kota mau dandan habis-habisan.

Sobrat pun berencana mengadukan Bintang ke pak lurah dengan tuduhan tidak punya ijin usaha. Juga mengadukan ke polisi dengan dakwaan wan prestasi kalau hujan yang dijanjikan seminggu itu tidak turun, Dia pun kembali menghubungi Mas Kendro agar mau datang ke rumah berkenalan dengan kakaknya. Sambutan Mas Kendro berubah drastis. Sobrat ga tahu bahwa sebelum dia datang, Mas Kendro melihat Dahlia yang baru turun dari bis keliatan ayu tenan setelah dangdan habis-habisan di salon.

Bintang bukannya ga tahu dia bakal diserang Sobrat. Sebelum hari Sabtu dia sudah menghubungi pak Lurah yang berseragam putih dengan epolet (alias cakcak moyan) birokrat, dan minta surat ijin usaha dari beliau. Pak Lurah keberatan, karena belum ada peraturan yang dibikin buat penjual hujan. Paniklah doi. Dan dia pun kabur.

Hari Sabtu adalah puncak menuju ending film ini. Engkong Paul, bapaknya LingLing datang dan marah-marah nuduh Sopan bikin anaknya kabur ke Jakarta pengen jadi artis. Neneknya Sui Ha membela dan mereka berantem pake bahasa Cina. Pak Rusdi yang ngedengerin santai saja ngomentarin agar mereka kawin. Sobrat kemudian datang dan nyari-nyari surat perjanjian yang mau digunakan buat menuntut BIntang ke polisi. Ternyata pak Rusdi sudahmerobek-robek surat perjanjian itu. Sobrat ngedumel dan bilang dia rugi 25 rebu buat DP. Tapi Dahlia yang sekarang cantik terus dan ga jutek lagi mengganti duit yang 25 rebu itu dan langsung dimasukin ke kantong baju.

Lagi seru-serunya ngumpul itulah…. Hujan turuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun…..!

Semua senang, semua riang. Si engkong dan encim yang suka berantem itu menari-menari sambil bernyanyi di bawah hujan. Dan kayaknya jadi deh bakal kawin.

Bintang kemudian muncul juga dengan motor gedenya, dan berteriak…" Dahliaaaaa……" yang disambut dengan Dahlia yang berlari menerobos hujan dan langsung menclok di belakang. Motor pun melaju di tengah hujan sambil diiringi anak-anak yang berlari dan berteriak-teriak.

Oke, harusnya di sini tamat… tapi ternyata belum.

Mas Kendro yang diundang datang, muncul gagah dengan baju penganten tradisional lengkap dengan blangkon sambil membawa pot tanaman yang gede. Basah kuyup dia waktu bertanya", Ini ditaroh dimana?"

Si Sopan yang masih musuhan ketawa ngakak," Sudah telat.. rasain!"

Tinggallah Mas Kendro berdiri terpaku di tengah hujan masih memegang pot. Sesaat kemudian muncul tulisan :

SEKIAN

Film ini meski dah 20 tahun tapi isinya masih relevan.

Salah satunya adalah waktu adegan Sopan dan Sobrat membicarakan Dahlia. Sopan pingin Dahlia cepet dapat suami, karena si LingLing bilang kalau kelamaan ga dilamar juga, dia mau cabut ke Jakarta jadi bintang film. Dan dia ga janji bakal terus setia. Komentar Sobrat,

" Mana ada bintang film yang setia…."

 Heheheh


 Where Are They == cast of characterz :

1. El Manik : masih tetep wara wiri di sinetron
2. Rini S. Bono : putri aktor almarhum S. Bono dan adek aktres Debby Chintya Dewi
    ini ga pernah muncul lagi semenjak jadi nyonya Ricardo Gelael. Dan Ahmad Albar
    pun tetep menduda. Darah aktingnya nurun sama Fachri, anaknya.
3. Ikranegara: di DC. Istrinya kan emang bule,
4. Mang Udel : sudah almarhum. kangen sama ukulelenya...
5. Netty Herawati : sudah almarhum juga dari tahun 80an. Sering berpasangan
    suami istri dengan suamni benerannya (H. Darussalam). Pak Haji itu juga sudah
    meninggal dan pernah dapet piala Citra aktor pembantu dalam film Kodrat,
    arahan Slamet Rahardjo. Psstt.. film Kodrat ga kongruen sama sinetronnya. So
     jangan dibandingkan.
6. Ami Priyono : aktor yang sutradara juga. Sudah meninggal. Kalau di sinetron dia
    jadi babenya si Sarah dalam si Doel Anak Sekolahan.
7. Paul Poli'i : aselinya pelawak Srimulat. Sudah meninggal juga. Ciri khasnya
    adalah bila menyebutkan namanya… phooooll.., desahan bercampur abab.
    Reaksi lawan main, pasti menutup hidung atau muka karena ada muncratan
8. Roni M. Thoha : dulunya ikutan Teater Koma juga. Tapi dia lebih terkenal mulai
    dekade 90 ketika jadi ikon buat Matahari Department Store, sebagai Jhon
    Banting,. Lalu semenjak krismon, dia berubah jadi ikon sabun deterjen DAIA.
    Dandanannya sih tetep mirip. Badut2an dengan warna2 meriah.

Posted at 06:32 pm by riadi
Make a comment  

 
Wednesday, January 25, 2006
CATS STORY
Di komplek perumahanku banyak kucing berseliweran. Kucing liar tentuya. Setiap teritori pasti ada saja kucing beraneka warna. Satu-satunya yang bisa mengumpulkan para kucing itu adalah tukang sayur. Tiap pagi mesti serombongan kucing mengikuti keretanya. Sapa tahu dapet cipratan rejeki sisa ikan atau serpihan tulang ayam yang dibeli ibu-ibu di sini.

Belakangan intensitas keberadaan kucing itu makin menguat. Tiap malam pasti terdengar suara meong yang jauh dari merdu. Serak-serak pecah. Mana kenceng lagi. Mengganggu. Lebih mengganggu kalau mereka sampai kejar-kejaran di genteng. Huh! Kadang aku siram kalau sudah kelewatan dengan segayung air. Tapi pinternya, hewan itu biasanya sudah langsung ngabur duluan begitu suara pintu terbuka. Jadi belum sempet disiram mereka dah lari tentu saja sambil terus mengeluarkan suara jeleknya itu.

Rumah yang aku tempati sekarang ini juga sebelumnya diokupasi oleh seekor induk kucing berwarna kelabu putih dengan anak-anaknya yang empat ekor. Mereka bersarang di langit-langit. Pertama kaget juga mendengar suara gurubug-gurubug Kirain tikus besar berlarian. Ternyata anak-anak kucing yang lagi gumincir, enak saja berkejaran. Dan kalau sudah kecapean, keliatan mereka gogoleran di atas kamar mandi yang kebetulan pake langit-langit kaca. Keliatan bayangannya yang lagi netek induknya.

Dari empat ekor itu yang tersisa tinggal satu. Dan secara formal ga jadi kucing rumahan. Tetep liar, namun sesekali nongol ke rumah. Apalagi pas musim kurban ini. Deuhh… betah banget dia nongkrong di depan rumah.

Namanya Fredi, eh Predi. Mirip nama ayam kesayangannya Ucup bin Sanusi yang tetangga Bajuri itu. Fiddut, ponakan yang juga tetangga beda 5 rumah sempet nanya, kok namanya gaya banget. Sementara Kucing piaraannya, yang awalnya Kucing Liar juga, cuma dikasih nama si AWEL merujuk pada kebiasaannya yang berisik dan bawel.

"Itu karena bulunya Fidd. Lihat tuh, hitem polos banget. Kayak Kucing batere EVEREADY. Jadi panggilan imutnya Predi.." jelasku.

Fiddut nyengir.

Ternyata antara si Predi dan Awel ada hubungan kekeluargaan. Kakaknya Fiddut, Miadz yang bersikeras setelah melihat persamaan ciri yang terdapat di sebelah mata keduanya. Menurutnya, Predi pasti adik Awel, sebab induk Si Predi (yang belum dikasih nama) juga mempunyai ciri guratan kayak gagang kacamata yang memanjang dari ujung mata ke arah telinga, precis seperti yg terdpata pada si Awel. Hemmm, aku malas debat meski buatku semua kucing sama saja.

Meski (mungkin) bersaudara, nasib Awel dan Predi jauh berbeda. Sementara Awel mengalami kehidupan mewah menjadi kucing rumahan, Predi tetap dengan gaya premannya, yang suka menggeram memamerkan taring dan cakarnya jika didekati. Tapi dasar Kucing, geraman galaknya berubah lembut jika dilempari makanan. Meski begitu dideketi… ancang-ancang ngajak perang tetep keluar.

"Dikasih apa tuh?" Fiddut pernah melihat aku melemparkan potongan makanan yang langsung dilahap dengan rakus oleh Predi.

"Biskuit.." aku menjawab sambil terus melemparkan lagi dan disambut dengan gerak cepat pula oleh Predi.

"Idih, kasian banget…."

" Jangan salah, Predi juga makan kentang, tempe, chiki, sukro, kue semprit sisa lebaran dan macem-macem….." penyebutan jenis makanan yang dikonsumsi Predi seperti menyiratkan kalau kucing bukan carnivora. Itu yang membuat Fiddut terbelalak.

"What?" Fiddut antara prihatin dan takjub.

Tentu saja, dia tahunya si Awel yang sok manja, padahal asalnya kucing liar juga, tapi setelah mencicipi Whiskas, sekarang paling sial dia maunya makan lauk-pauk macem dencis, pindang ikan atau kepala ayam…

Ini yang namanya jalan hidup. Sama saja dengan manusia. Meski bersaudara, belum tentu setiap orang akan memiliki kehidupan yang sama. Siapa yang bisa menyangka kalau Awel yang tadinya kurus, kotor dan sangat bawel sekarang menjadi kucing sehat, manis kesayangan keluarga. Malahan dalam setahun sudah menjadi induk dari 6 ekor dalam dua kali melahirkan.

Semenjak jadi emak-emak itulah, tabiat Awel jadi lebih santun dan elegan. Sekarang pun Awel kayaknya lagi dalam masa subur. Mudah-mudahan ga dikawinin sama Predi. Amit-amit, incest…!

Karena bertetangga dengan Fiddut itulah, aku kembali agak sedikit gemar sama kucing lagi.

Selama belasan tahun tinggal di Bandung hubunganku sama felix domesticus ini ga akur. Hubungan benci dan sebel. Secara formal di rumah ga piara, tapi selalu ada saja kucing nongol dengan regular. Sebelnya itu kucing berisik, suka berburu tikus tapi ga bertanggung jawab memakannya, eek di sembarang pojokan, terus kalau beranak suka berulang ngebrojolin di dalam lemariku, mana siklus kehamilannya cepet lagi. Hiiii……

Padahal sewaktu masih di kampong aku punya dua ekor. Bersaudara dengan bulu nyaris seragam, kuning-putih. Kucing kampong biasa. Tapi meski secara kasat mata keduanya mirip, aku bisa membedakan yang mana DEWI dan yang mana CIPLUK.

Tidak seperti judul film dari kisah nyata orok yang dituker-tuker sama Nuraeni (Neno Warisman) …DEWI CIPLUK, SEMUA SAYANG KAMU, toh rasa sayangku ternyata terasa lebih buat Dewi thok. Hihihi, maaf kalau ga berlaku adil. Soalnya Dewi memang lebih nggemesin. Tidak seperti Cipluk yang keliatan males-malesan saja.

Sekarang ini rasanya aku melihat figur DEWI pada si AWEL…..


Posted at 11:50 am by riadi
Comment (1)  

Next Page